"ALARA?!"
Teriakan itu membahana di dalam rumah, menggema melalui lorong-lorong yang sepi setelah beberapa hari tidak ada suara riuh. Suara Daniel selalu bisa memecahkan keheningan yang mencekam. Begitu mendengar panggilannya, Alara tidak bisa menahan senyumnya. Daniel, kakaknya yang selalu menghangatkan suasana dengan tingkahnya, melompat dari sofa dengan semangat yang membara, seolah baru saja melihat bintang jatuh.
Tanpa ragu, ia melompat ke arah Alara, memeluknya erat dengan kebahagiaan yang tak tertahankan, Membuat Alara merasa seolah waktu berhenti sejenak. Keduanya berpelukan, dan suasana malam yang awalnya sunyi mendadak terasa cerah. Althan, yang sebelumnya diam di sudut ruangan, segera menyalakan lampu, menciptakan suasana hangat yang seakan mengusir kegelapan dari setiap sudut.
Namun, saat Alara menarik diri dari pelukan Daniel, matanya membelalak kaget. Wajah Daniel terlihat berbeda, tak secerah yang ia ingat. Lebam-lebam memenuhi pipinya, dan ujung bibirnya menganga, terluka. Rasa khawatir langsung melanda, menggantikan kebahagiaan yang sebelumnya ada.
"LO KENAPA DANIEL?!," jerit Alara, tangannya menangkup wajah Daniel, setengah berjinjit karena perbedaan tinggi badan mereka. Sinar lampu menerangi wajahnya yang penuh ketakutan, membuat Daniel merasa lebih tertekan dengan perhatian yang diberikan.
Althan hanya bisa menggeleng pelan, tatapannya beralih antara kedua adiknya. Seperti biasa, mereka selalu adu tarik suara jika bertemu, saling berbicara dengan nada yang tinggi seolah ingin membuktikan siapa yang lebih perhatian.
"Jangan tidur terlalu larut, Daniel, Alara," Ujar Althan dengan nada lembut, berniat memberi peringatan. Ia tahu betapa suka citanya mereka saat berkumpul, tetapi di balik itu, ia merasa perlu mengingatkan keduanya tentang pentingnya menjaga kesehatan.
"Eh Althan?!," seru Alara, merasa seolah baru tersadar akan kehadiran kakaknya. "Perbannya ganti dulu sini," pintanya, suaranya bergetar antara khawatir dan tegas.
"Iya, gue ganti baju dulu," jawab Althan, berusaha tidak terlibat dalam kekacauan adiknya.
"Tugasku banyak banget malam ini," keluh Alara, suaranya penuh rasa frustrasi. Ia merasakan beban tugas yang terus menumpuk, tetapi di saat yang sama, ia tidak bisa mengabaikan Daniel yang terlihat dalam keadaan darurat.
"Hah? Apa? Tugas sekolah? Minta bantuan bang Althan aja," antusias Daniel, selalu berusaha mencari cara untuk membuat suasana lebih ceria, meski wajahnya terlukai. Ia tampak ceria seperti biasanya, membuat Alara merasa sedikit lebih tenang meski ketegangan masih mengintai.
Alara menyentil pelan dahinya hingga Daniel berseru, "Aduh!"
"BERSIHIN LUKA KALIAN!," jawab Alara ketus, matanya membara dengan kemarahan yang sebenarnya lebih kepada rasa khawatir. Ia menatap Daniel dengan serius, ingin memastikan Daniel tidak terlibat dalam hal-hal yang bisa berbahaya.
Daniel hanya cengar cengir mendengarnya, seolah apa pun yang dikatakan Alara tidak ada artinya dibandingkan kegembiraannya bertemu dengan Alara. Ia mengikuti langkah Alara yang bergerak cepat ke arah meja obat.
"NGAPAIN NGIKUTIN GUE?!," bentak Alara, meski nada suaranya lebih mirip pelindung daripada pemarahi.
"TERSERAH GUE NAPA SIH?!," balas Daniel dengan semangat, menciptakan suasana konyol di tengah ketegangan yang ada. Teriakan mereka berdua seolah menyatu dengan suara tawa yang menembus keheningan malam.
"Alara, Daniel?!," tegur Althan dari kamarnya, suaranya tegas namun tetap penuh kasih. Ia tidak bisa tidak mendengarkan kekacauan yang timbul dari kedua adiknya.
Keadaan ini membawa kembali suasana hangat yang pernah ada di rumah itu, setelah berhari-hari penuh dengan kesedihan dan kekacauan. Tawa, canda, dan sedikit keributan kembali meramaikan sudut-sudut rumah, mengubah kegelapan menjadi cahaya. Di balik luka dan ketegangan, keluarga kecil ini menemukan kembali jalinan kasih sayang yang selama ini terpendam, menciptakan sebuah harapan di tengah badai yang telah berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Threads of Fate
FanfictionBagaimana jika rahasia keluarga kaya dan penuh kuasa tak lagi hanya menjadi cerita fiksi, tetapi menyelimuti kenyataan hidup mereka? Di tengah kehidupan keluarga kaya yang penuh intrik, seorang gadis tumbuh menyimpan rasa ragu pada mereka yang sehar...
