Di dalam mobil yang sunyi, suasana terasa tegang, seolah setiap detik bergetar dengan emosi yang tidak terucap. Althan, dengan wajahnya yang tegang dan kemarahan yang membara, mengemudikan mobil dengan cepat, mengabaikan lampu merah di jalan. Ia menatap Daniel, yang duduk di sebelahnya, dengan mata penuh kekhawatiran dan kemarahan.
"Siapa yang ngijinin lo datang kesini, HAH?!" bentaknya, suaranya keras dan penuh tekanan, menciptakan suasana yang seolah menghimpit Daniel di kursi penumpang.
Daniel hanya membuang muka, menatap parkiran yang kosong, seolah menemukan pelarian dalam kesunyian itu. Hatinya bergejolak, antara kemarahan dan kebingungan. Dalam hati, ia merasa terjebak dalam pusaran emosi yang tak terduga. "Lo tau lo bakal mati kalo gue ga dateng?!" Althan melanjutkan, dengan nada yang semakin meningkat. "Jangan berlagak sok berani, Daniel. Lo ga tahu rencana papa. Selagi lo bisa, kabur, jangan muncul di depan papa---,"
Namun, semua peringatan itu hanya memicu kemarahan yang sudah terpendam dalam diri Daniel. "KALO GITU KENAPA ABANG GA BIARIN ITU TERJADI AJA SEKALIAN?!" Teriaknya, suaranya penuh kepedihan dan kemarahan yang membara. "KENAPA ABANG SELALU NYELAMETIN GUE?! KENAPA ABANG GA BIARIN GUE MATI DARI DULU HAH?! GUE CAPE! GUE CAPE GA DIANGGEP KAYA GINI! GUE SENENG WAKTU PAPA MANGGIL GUE! GUE MANA TAU BAKAL DIHAJAR HABIS-HABISAN! BAJINGAN--"
Teriakannya menggema dalam mobil, menciptakan keheningan yang menekan, membuat udara terasa berat dan tidak nyaman. Tiba-tiba, semua emosi yang terkumpul di dalam Daniel seperti meledak, mengungkapkan semua rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan.
Althan, terkejut mendengar teriakan itu, merasakan dorongan emosional yang kuat dalam diri Daniel. Tanpa berpikir panjang, ia menarik tubuh Daniel, memeluknya erat, seolah ingin menyalurkan semua kekuatannya untuk menenangkan adiknya. Dalam pelukan itu, Daniel merasa air mata mengalir tanpa henti, mengubah semua rasa malu dan kesedihannya menjadi tangisan yang tulus.
"Maaf," ucap Althan pelan, berusaha menenangkan tubuh Daniel yang masih berguncang hebat. Suara lembutnya penuh empati, berusaha menyampaikan rasa khawatir dan kasih sayang yang selama ini tersembunyi di balik ketegangan mereka.
Daniel merasa canggung, terjebak antara rasa benci dan cinta yang rumit. Ia tidak tahu bahwa di balik semua rasa sakit dan pertentangan, Althan mulai menyayangi adik yang dulu sangat dibencinya. Althan mengingat bagaimana Daniel muncul dalam hidupnya, seorang adik dari wanita yang menghancurkan hidup ibunya. Namun, saat ini, semua itu tampak samar dalam pelukan hangat yang memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan.
"Gue ga bermaksud bikin lo berpikiran kaya gitu," Althan melanjutkan, suaranya kini lebih lembut. "Gue takut gue gagal nyelametin lo lagi, gue ga mau hal-hal buruk kaya gitu terulang. Gue cuma khawatir," katanya dengan tulus, berusaha meraih hati Daniel.
Isakan Daniel semakin terdengar, menandakan betapa dalamnya rasa sakit yang ia pendam selama ini. Selama di Jerman, ia berusaha keras untuk tidak menangis, mengikuti rencana Althan untuk menjauhkan dirinya dari masalah, untuk kabur sejauh yang ia bisa. Kini, semua pertahanan itu runtuh, dan dalam pelukan kakaknya, ia menemukan ruang untuk melepaskan semua rasa sakit yang selama ini terkurung dalam hatinya.
Di dalam mobil yang sunyi, suasana mulai berubah. Walau ada kepedihan di antara mereka, ada juga benang halus yang mulai menghubungkan kembali hubungan kakak beradik ini, membawa harapan baru bagi masa depan yang lebih baik.
***
"Yang ini cantik, Ra—" ujar Jeremy sambil menunjukkan salah satu dress yang menggoda perhatian. Namun, kalimatnya terhenti ketika Alara mengangkat salah satu dress elegan berwarna champagne dari rak. Gaun tersebut terbuat dari satin yang lembut, mengkilap, dan memiliki potongan yang anggun, dengan garis leher berbentuk V yang menonjolkan lehernya yang ramping. Pada bagian pinggang, gaun ini memiliki detail ikat pinggang yang memberikan siluet tubuhnya yang sempurna, sementara rok gaun mengalir dengan lembut hingga mencapai pergelangan kakinya. Sentuhan detail renda di bagian bawah memberikan kesan yang lebih feminin dan anggun, membuatnya sempurna untuk acara formal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Threads of Fate
FanficBagaimana jika rahasia keluarga kaya dan penuh kuasa tak lagi hanya menjadi cerita fiksi, tetapi menyelimuti kenyataan hidup mereka? Di tengah kehidupan keluarga kaya yang penuh intrik, seorang gadis tumbuh menyimpan rasa ragu pada mereka yang sehar...
