37. Whirlwinds of Time

13 13 0
                                        

"Widih, cakep amat adik gue!" seru Daniel sambil rusuh masuk ke kamar Alara, matanya langsung tertuju pada sosok adiknya yang sedang berdandan di depan meja rias. Senyumnya lebar, menggoda Alara yang hanya bisa menggeleng pelan, sudah terlalu sering menghadapi kelakuan kakaknya yang penuh energi ini.

Tanpa menghiraukannya, Alara berbalik untuk mengambil lip product baru yang masih ada di tasnya. Namun, dari sudut matanya, ia menangkap pemandangan Daniel yang sudah merebahkan diri di atas kasur, bercengkerama santai dengan boneka kelincinya.

"DANIEL, RAMBUT LO KENAPA BEGITU?!" teriak Alara, berdiri dengan tangan di pinggang, melihat rambut kakaknya yang berantakan seperti baru bangun tidur.

Daniel terlonjak, refleks langsung bangkit dari kasur sambil menutup telinganya. "ADUH SUARA LO YAAMPUN, ALARA!"

"Udah, sini cepet," kata Alara, mengarahkan jari ke kursi meja rias. Melihat Daniel masih kebingungan, Alara langsung menyeretnya tanpa peduli dengan protesnya.

"Apaan sih, Ra, udah rapi gini juga," gumam Daniel, masih mencoba membela diri.

Saat itu, Althan muncul di ambang pintu. "Alara, dasi kakak yang kemarin dimana?" tanyanya dengan suara tenang, membuat Daniel dan Alara menoleh.

"Nih, liat Althan! Ganteng, rapi banget rambutnya," kata Alara sambil mencibir Daniel, membandingkan rambut Althan yang tertata rapi ala *textured side part*—dengan volume di atas dan sisir ke samping—dengan rambut Daniel yang berantakan seperti gaya *messy bedhead* yang mungkin memang tanpa usaha.

"Coba cek di tasku, Al. Kayaknya belum dikeluarin," lanjut Alara sambil menunjuk tas yang tergantung di dekat pintu.

Sementara Althan mencari dasinya, Daniel malah diam-diam menirukan gaya bicara Alara, pura-pura menggerakkan bibirnya tanpa suara. Alara, yang melihat tingkah kakaknya, langsung menyentil dahinya dengan keras.

"Aduh!" Daniel meringis sambil memegangi dahinya, menatap Alara sebal. Tapi sepertinya, sentilan itu cukup untuk membuatnya menurut.

Daniel akhirnya duduk diam di kursi meja rias, membiarkan Alara menata rambutnya tanpa protes lagi. Dengan sabar, Alara menata rambutnya ke model *curtain bangs*, membiarkan bagian depan sedikit terurai membingkai wajah Daniel. Perlahan, rambut Daniel mulai terlihat lebih tertata, memberi kesan segar namun tetap natural.

Althan, yang sudah menemukan dasinya, melirik ke arah Daniel dan tersenyum puas. "Liat tuh, jadi ganteng juga kalau rapi," katanya sambil mengangguk puas.

Daniel hanya mendengus kecil, tapi sedikit senyuman muncul di wajahnya, menandakan bahwa meskipun enggan, ia cukup puas dengan hasilnya.

Di depan rumah, ketiganya melangkah menuju mobil mewah yang menunggu di halaman. Kendaraan itu adalah sedan hitam dengan body mengilap, desainnya elegan dan klasik dengan interior kulit yang nyaman. Lampu malam berpendar di permukaannya, mencerminkan detail apik dari mobil berkelas ini. Arman, sang pengemudi, sudah berdiri di samping pintu, membukakan pintu dengan anggukan ramah.

"Sudah mengabari Jeremy?" tanya Althan saat Alara melangkah masuk.

"Sudah," jawab Alara sambil meraih handphonenya. Meskipun Jeremy setuju untuk tidak ikut hadir, ia tetap meminta Alara untuk memberitahunya kapan mereka berangkat. Alara tersenyum kecil sambil melirik ke arah Althan dan Daniel.

"Yuk, senyum kamera dulu!" pinta Alara, membuat Althan dan Daniel terpaksa berpose.

Althan tersenyum simpul seperti biasa, tenang dan kalem. Alara tersenyum manis sambil membuat tanda hati dengan kedua tangannya, sementara Daniel, dengan gaya khasnya, malah tersenyum konyol, sengaja memperlihatkan gaya rambut barunya.

Threads of FateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang