Bab 42

118 11 7
                                        

Junghoon terlihat baru saja mengakhiri pembicaraan dengan seseorang di telepon ketika Jaehan masuk ke kamarnya dengan sedikit tergesa-gesa.

Memandang Jaehan yang berjalan menghampiri. Junghoon sudah tau apa yang akan Jaehan bicarakan.

"Yechan memberi tau mu ?"

Benar saja, setelah seharian. Jaehan akhirnya sadar Yechan tidak seperti biasanya. Terlihat baik dan bersikap seperti tidak ada apa-apa saat di sekolah, namun sangat terasa Yechan menghindari nya.

"Maksud Hyung ?"

Jaehan duduk di tepi tempat tidur Junghoon dengan wajah yang sudah frustasi. Di lirik nya ranjang Yechan yang kosong, waktu sudah menunjukkan lewat jam malam asrama. Yang berarti sudah tidak ada yang boleh keluar atau tidak boleh pulang melewati jam malam yang sudah di tetap kan.

Begitu juga Yechan, sepertinya dia tidak akan pulang malam ini.

"Kamu pasti tau maksud ku, Junghoon. Aku tidak bisa menghubungi nya. Yechan...apakah dia memberitahu mu, sekarang dia dimana ?"

Mata Junghoon terus melirik tajam dan kesal pada Jaehan. Junghoon tau betul Yechan begitu kecewa padanya, sudah bagus adik kesayangan nya itu masih bisa tersenyum dan terlihat baik-baik saja.

"Yechan memberi tau ku, dia tidak bisa pulang hari ini."

Kening Jaehan berkenyit, bukan kah handphone Yechan mati sejak sore. Bagaimana bisa dia menghubungi Junghoon ??

"Bagaimana dia bisa menghubungi mu, handphone nya mati sejak sore."

"Aku tidak bilang pada Hyung, Yechan menelpon dari handphone nya kan.."

Menoleh cepat ke Junghoon, mata Jaehan langsung tajam menelisik. Sedikit berdoa, semoga dugaan nya salah...

"Maksud mu ?"
.
.
.
* * *
"Terima kasih..."

Yechan mengembalikan handphone Jehyun kepada pemiliknya yang sedang duduk santai di atas ranjang empuk dan nyaman sambil memperhatikan nya selama berbicara dengan Junghoon di telepon.

Ya... Yechan sedang berada di kamar Jehyun. Merengek tidak ingin tidur di asrama, wajah sulky nan menggemaskan berhasil membuat Xen membujuk Jehyun untuk mengizinkan nya menginap.

"kenapa tidak di rumah mu saja ?"

Protes Jehyun ketika Xen meminta nya mengizinkan Yechan tidur di rumahnya.

"Tidak bisa. Besok pagi-pagi sekali Aku harus kembali mengantar eomma check up dan terapi, tidak mungkin membangunkan nya pagi-pagi hanya untuk pulang."

Jehyun terdiam, tidak menjawab. Xen juga diam menunggu jawaban.
keduanya menatap Yechan yang sedang berdiri manis berjarak beberapa meter dari mereka, menunggu hasil pembicaraan Jehyun dan Xen.

Akhirnya Jehyun mengangguk sekali, tanda dia pasrah menyetujui kemauan Xen.

Namun wajah nya menunjukkan hal sebaliknya. Dalam lubuk hati Jehyun, sungguh ini tidak mudah. Jehyun tau apa yang akan dia hadapi jika Yechan menginap dirumahnya.

Tapi menolak permintaan Xen tidak bisa juga dia lakukan.

Menyadari kegusaran yang di rasakan Jehyun. Sebuah usapan terasa lembut dan hangat di pipi Jehyun.

Akhirnya dengan semangat tersisa, Jehyun bisa memberikan senyum kecil manis nya untuk Xen.

Berjinjit sedikit agar bisa mendekatkan wajah nya ke wajah Jehyun. Xen mengecup bibir Jehyun sekali, tentu membuat Jehyun sedikit terkejut.

Love Affirmation Where stories live. Discover now