Di ruangan latihan yang sederhana namun penuh semangat, El dan teman-teman band Nueve terlihat begitu fokus. Hari itu, mereka memutuskan untuk latihan lebih keras dari biasanya. Waktu menunjukkan pukul empat sore, tapi semangat mereka masih berkobar. Dengan peralatan lengkap dan suara-suara instrumen yang menggelegar, mereka siap memberikan yang terbaik untuk perlombaan besok.
El berdiri di tengah ruangan dengan gitar di tangannya, bersiap untuk memainkan lagu yang telah mereka pilih. Rambutnya sedikit berantakan, namun sorot matanya tegas, mencerminkan ketegangan dan dedikasi yang mendalam. Dia mengisyaratkan teman-temannya untuk bersiap. Di belakang drum, Reza sudah menepuk stiknya dengan irama dasar, memberikan ketukan pelan sebagai aba-aba. Di sebelahnya, Siska sudah menempatkan jari-jarinya di atas tuts keyboard, siap memainkan melodi yang akan membuka lagu. Rina, vokalis kedua, berdiri tak jauh dari El, bersiap untuk mengisi harmoni suara yang mereka rencanakan.
Mereka mulai dari intro, sebuah nada gitar lembut yang dimainkan El, diiringi petikan bass dan ketukan ringan drum dari Reza. Perlahan-lahan, tempo musik mulai meningkat, dan El mulai menyanyikan lirik lagu pertama. Suaranya terdengar lantang namun penuh emosi, seolah setiap kata dalam lirik itu menyampaikan perasaannya—kesedihan, rasa kehilangan, tapi juga kekuatan dan tekad. Rina mengikuti dengan vokal harmoninya, suaranya berpadu sempurna dengan El, memberikan kedalaman pada lagu mereka.
Di bagian refrain, El mengangkat suaranya, membuat semua orang yang mendengar merasakan setiap nada yang ia nyanyikan. Reza menabuh drumnya dengan lebih intens, memberikan ritme yang lebih kuat, sementara Siska memainkan melodi keyboard dengan penuh perasaan, tangannya bergerak cepat namun halus di atas tuts. Setiap anggota band memberikan yang terbaik, seolah mereka sedang tampil di atas panggung perlombaan yang sesungguhnya.
Saat lagu selesai, mereka semua terdiam sejenak, meresapi setiap nada yang baru saja mereka mainkan. Wajah mereka penuh keringat, namun mata mereka bersinar dengan semangat. Reza memukul drum pelan sebagai tanda persetujuan, "Gue rasa, ini tadi keren banget! Tapi di bagian bridge, coba kita kasih variasi, biar nggak terlalu monoton."
El mengangguk, setuju dengan saran Reza. Mereka berdiskusi sebentar, mencoba mengatur ulang bagian bridge agar terdengar lebih dinamis. Kemudian mereka memulai dari awal lagi, kali ini dengan sedikit perubahan. Latihan berlangsung selama berjam-jam, namun mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Siska memainkan keyboard dengan jari-jarinya yang lincah, membuat alunan musik menjadi lebih hidup. El, yang berdiri di depan mereka, sesekali memberikan isyarat dan memberi motivasi, “Ayo, kita nggak boleh kalah sama band lain. Besok adalah hari kita!”
Latihan terus berlanjut hingga malam tiba. Mereka mencoba berbagai variasi nada, memperbaiki setiap detail kecil yang terasa kurang sempurna, dan bahkan mengulang satu lagu berkali-kali hingga mereka merasa benar-benar siap. Rina, yang biasanya lebih tenang, tampak jauh lebih bersemangat, ikut bernyanyi dengan penuh ekspresi.
Saat malam semakin larut, mereka memutuskan untuk memainkan lagu terakhir sebagai penutup latihan. El berdiri di tengah dengan gitar yang digantung di bahunya, mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai bernyanyi. Lagu terakhir itu adalah lagu spesial yang mereka dedikasikan untuk Rama, sebuah lagu tentang persahabatan dan kenangan yang tak akan pernah hilang. Suasana menjadi haru, dan setiap anggota band memainkan instrumen mereka dengan sepenuh hati. Di bagian akhir lagu, suara El terdengar sedikit bergetar, namun dia menahan emosinya, mencoba tetap fokus untuk menyelesaikan latihan ini dengan baik.
Setelah lagu selesai, mereka semua terdiam, meresapi keheningan yang tiba-tiba menyelimuti ruangan. Siska menyeka air matanya yang mulai mengalir, sedangkan Reza menepuk bahu El, memberi dukungan tanpa kata-kata. Mereka semua merasa, besok adalah hari penting bukan hanya untuk menunjukkan kemampuan mereka sebagai band, tapi juga untuk menghormati kepergian Rama, sahabat mereka.
YOU ARE READING
Never Flat
General Fiction"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
