Pagi itu, suasana markas dipenuhi kesibukan. El, Nana, dan tim agen bersiap dengan penyamaran ketat. Mereka semua mengenakan pakaian sederhana dan kacamata hitam, membuat penampilan mereka terlihat seperti pekerja pengiriman biasa. Tidak ada tanda-tanda perlengkapan canggih di tubuh mereka, hanya ransel dan kotak besar yang terlihat seperti peralatan kerja.
Mobil yang mereka gunakan adalah mobil kargo besar yang biasa mengangkut paket dan barang. Sasisnya kokoh, dan bodinya diwarnai dengan logo perusahaan fiktif yang tidak terlalu mencolok. Dari luar, siapa pun akan mengira ini hanya mobil pengiriman paket besar. Di dalam, Pak Adri telah memastikan keamanan dan perlengkapan yang mereka butuhkan, terselip di dalam kotak dan tas yang menyamar sebagai barang biasa.
Jean dan Christine duduk di kursi depan, berperan sebagai sopir dan navigator. Sasha, Hafidz, El, dan Nana berada di dalam area belakang, duduk di antara tumpukan kotak yang telah diatur sedemikian rupa agar tidak menarik perhatian.
Sepanjang perjalanan, mereka tetap berkomunikasi secara minimal melalui isyarat tangan dan kode kecil, demi menjaga penyamaran. Hafidz, dengan keahliannya, memantau sinyal ponsel dan pergerakan di sekitar mereka melalui perangkat kecil yang tersembunyi di saku.
“Semua aman, tidak ada tanda pengawasan khusus dari luar,” bisik Hafidz pada Nana dan El, yang duduk di sampingnya.
Sasha memberikan kode agar mereka tetap tenang, “Ingat, semakin tenang, semakin tidak ada yang akan curiga,” katanya dengan nada lembut.
Begitu mereka sampai di bandara, mobil berhenti di area kargo. Para agen tetap berperan sebagai pekerja pengiriman, menurunkan kotak-kotak dari mobil dengan hati-hati, mengangkatnya seolah berat, namun sambil tetap waspada terhadap lingkungan sekitar.
El dan Nana berbaur, berjalan mengikuti ritme tim mereka. Meskipun berada dalam perlindungan yang ketat, mereka berdua tetap merasakan ketegangan di udara. Setiap langkah terasa seperti bagian dari rencana yang harus dijalankan dengan sempurna.
Sampai akhirnya, mereka melewati pintu pemeriksaan terakhir, lalu naik pesawat kargo yang telah diatur oleh Pak Adri. Di dalam kabin yang sempit namun aman, tim duduk sambil menenangkan diri. Nana menatap El yang tampak fokus pada misi ini, dan genggaman tangan mereka berdua menguat, sebagai tanda bahwa mereka siap menghadapi apapun yang ada di depan.
Perjalanan menuju Tokyo baru saja dimulai, dan mereka tahu, di tanah asing tersebut, mereka akan menjalani tantangan terbesar dalam hidup mereka.
Di dalam pesawat, El tampak gelisah. Tangannya erat menggenggam sandaran kursi, sesekali menghela napas dalam. Ini adalah kali pertama baginya terbang di udara, dan rasa takut yang tidak bisa disembunyikan jelas terlihat di wajahnya. Nana yang duduk di sampingnya, langsung menyadari kegelisahan itu. Dengan lembut, ia menyentuh tangan El, mencoba menenangkan.
“Hei,” ucap Nana sambil tersenyum lembut. “Santai aja, pesawat ini aman kok. Lagian, banyak yang bilang, pertama kali naik pesawat memang rasanya aneh, tapi lama-lama pasti biasa.”
El memaksakan senyum, walaupun masih terlihat gugup. “Iya, gue tau, cuma… rasanya aneh aja. Seolah-olah ada yang narik-narik perut gue pas kita lepas landas tadi.”
Nana terkekeh kecil, berusaha menghibur El dengan candaannya. “Kamu tuh ya, jago bela diri, jago strategi, tapi takut sama pesawat. Aneh banget.”
Keduanya tertawa pelan, dan sedikit demi sedikit, El mulai lebih tenang. Sembari menatap keluar jendela, Nana akhirnya bertanya sesuatu yang selama ini ia pendam.
“El… kemarin, kamu bilang kalau kamu cinta sama aku. Itu… beneran?” Suaranya lembut, namun ada nada harapan yang terselip di sana. “Maksudku, dari kapan kamu merasa kayak gitu?”
YOU ARE READING
Never Flat
General Fiction"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
