Keesokan harinya, El berangkat ke sekolah bersama Adit dan Rama. Mereka bertiga punya kebiasaan nongkrong di sebuah warung lesehan yang sering mereka singkat jadi "Warlem." Meski letaknya tidak dekat sekolah, Warlem sudah seperti tempat berkumpul mereka untuk berbagi cerita atau sekadar melepas lelah setelah beraktivitas.
Dalam perjalanan ke sekolah, Adit mulai membuka obrolan. "Eh, jadi rencana latihan band lagi minggu depan, ya?" tanya Adit sambil melirik El.
El mengangguk. "Iya, kalau bisa sih makin sering latihan. Lomba udah tinggal hitungan minggu, gue pengen Nueve tampil sebaik mungkin."
Rama tertawa sambil menepuk pundak El. "Santai, bro! Lo tuh udah jadi bintang sekolah sekarang, juara puisi, ketua eskul bahasa Inggris, terus bakal main di lomba band juga."
El hanya tersenyum, tidak mau berlebihan menanggapi pujian itu. Mereka terus bercanda sambil berjalan ke sekolah, membahas hal-hal ringan dengan tawa dan canda yang membuat perjalanan pagi itu jadi lebih ceria. Bagi El, obrolan dengan Adit dan Rama selalu jadi momen yang menyenangkan, teman-teman yang membuat hari-harinya di SMA Jawara Subang terasa lengkap.
Sesampainya di sekolah, El, Adit, dan Rama saling melambaikan tangan dan berpisah menuju kelas masing-masing. El menuju kelas XI IPS 1, sementara Adit dan Rama ke kelas mereka yang berada di gedung lain. Saat El berjalan di koridor menuju kelas, matanya menangkap sosok yang dikenalnya—Nana, wakilnya di ekstrakurikuler bahasa Inggris, sedang berdiri di depan pintu kelasnya.
Nana melambaikan tangan dan tersenyum saat melihat El mendekat. “Pagi, El! Udah siap buat kelas hari ini?”
El membalas senyumannya. “Siap, dong. Lo sendiri gimana? Gimana, udah siap materi buat ekskul nanti sore?”
Nana mengangguk antusias. “Udah, kemarin gue susun tambahan materi buat latihan listening. Gue pikir bakal seru buat mereka latihan sambil nonton film.”
El tampak tertarik. “Wah, bagus tuh idenya! Kayaknya bakal bikin suasana jadi lebih rileks tapi tetap dapet pelajaran.”
Mereka mengobrol sebentar tentang rencana ekskul sore itu. Meskipun pembicaraan berlangsung singkat, percakapan ringan tersebut menambah semangat El untuk menjalani hari. Setelah itu, mereka berpisah menuju kelas masing-masing, siap untuk memulai pelajaran pagi itu. El merasa beruntung memiliki teman seperti Nana, yang selalu membawa semangat dan ide-ide baru ke dalam kegiatan ekstrakurikuler mereka.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, El dan Nana tidak langsung pulang. Mereka menuju ruang kelas yang biasa digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler bahasa Inggris. Hari itu, suasana terasa berbeda karena Nana sudah merencanakan metode pembelajaran yang lebih santai dan menyenangkan. El, sebagai ketua ekskul, sangat antusias untuk mencoba ide baru yang mereka bicarakan tadi pagi—latihan listening dengan menonton potongan film berbahasa Inggris.
Setelah semua anggota ekskul berkumpul, El berdiri di depan kelas, memberi sapaan singkat. “Oke, teman-teman, terima kasih udah pada datang. Hari ini kita punya aktivitas yang sedikit berbeda. Jadi, kita bakal latihan listening dengan nonton potongan film. Pasti seru, kan?”
Suara bisikan penuh antusiasme terdengar dari anggota ekskul yang tampak senang dengan ide itu. Nana kemudian mengambil alih untuk menjelaskan lebih lanjut. “Iya, betul. Jadi kita udah pilih beberapa adegan dari film yang bahasa Inggrisnya cukup mudah dimengerti, tapi tetap menarik untuk dipelajari. Sambil nonton, nanti kita bakal belajar gimana cara memahami aksen dan ekspresi mereka.”
El memutar potongan film yang sudah disiapkan Nana. Mereka memilih sebuah adegan dari film drama ringan yang penuh dengan percakapan sehari-hari dan ekspresi khas, sehingga cocok untuk latihan listening. Begitu layar proyektor menyala, seluruh ruangan menjadi hening, fokus pada dialog di layar.
YOU ARE READING
Never Flat
Narrativa generale"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
