Tokyo 2

7 0 0
                                        

Pagi itu, udara Tokyo terasa sejuk dengan angin tipis yang membawa aroma kota yang sibuk. Izuna, El, Nana, Jean, Christine, Hafidz, dan Sasha berkumpul di luar tempat tinggal Izuna. Mereka mengenakan pakaian yang sederhana namun strategis untuk menyamar—jaket kasual, topi, dan sepatu yang nyaman untuk bergerak cepat. Jean, sebagai pemimpin tim, memberikan briefing singkat sebelum mereka berangkat.

“Kita harus berhati-hati,” katanya dengan nada tegas. “Musuh mungkin sudah memantau pergerakan kita. Fokus hari ini adalah mempelajari daerah sekitar dan mencari tanda-tanda keberadaan brangkas. Jangan ambil risiko yang tidak perlu.”

El dan Nana mengangguk dengan serius. Meskipun ini pengalaman pertama mereka dalam misi seperti ini, mereka berdua berusaha menenangkan diri dan mengikuti arahan. Hafidz, seperti biasa, mencoba mengurangi ketegangan. “Hei, tenang aja. Kalau kita terlalu serius, malah kelihatan mencurigakan.”

Kelompok itu dibagi menjadi dua tim kecil untuk meminimalkan perhatian. Izuna memimpin El dan Nana, sementara Jean membawa Christine, Sasha, dan Hafidz. Mereka berangkat menggunakan dua mobil yang berbeda, menjaga jarak satu sama lain agar tidak terlihat seperti satu kelompok besar.

***

Lokasi pertama adalah sebuah kawasan gudang tua di pinggiran Tokyo, sebuah area yang tampak terlantar dengan dinding-dinding penuh grafiti dan jalan yang jarang dilewati orang. Gudang ini terletak di ujung sebuah pelabuhan kecil, tempat yang ideal untuk menyembunyikan sesuatu yang berharga tanpa menarik perhatian.

Izuna membawa timnya menyusuri jalan kecil di sekitar kawasan itu. Sementara mereka berjalan, Nana memperhatikan setiap detail dengan cermat, dari posisi kamera pengawas hingga pintu-pintu masuk. “Gudangnya tampak tidak terlalu terawat,” bisiknya kepada El. “Tapi itu bisa jadi trik untuk menyamarkan sesuatu.”

El mengangguk, matanya mengikuti arah pandangan Nana. "Mungkin ada lebih banyak kamera tersembunyi di sini," jawabnya. Mereka berdua melangkah dengan hati-hati, berusaha tidak meninggalkan jejak.

Sementara itu, Jean dan timnya bergerak di sisi lain area tersebut, menggunakan peralatan canggih untuk memindai sinyal elektronik dan mendeteksi kemungkinan jebakan. Sasha, yang terkenal dengan keahliannya dalam komunikasi, mencatat semua temuan mereka. "Ada sinyal lemah di sudut barat gudang," katanya melalui alat komunikasi kecil di telinganya. "Kemungkinan ada alat pengawasan di sana.”

Christine merespons dengan cepat, “Aku akan mendekat dan memeriksa. Hafidz, tetap awasi pergerakan di sekitar.”

Hafidz, yang biasanya santai, menunjukkan sisi seriusnya. "Siap, aku pantau dari sini."

***
 
Di sisi lain, El, Nana, dan Izuna menemukan sesuatu yang mencurigakan. Pintu belakang salah satu gudang memiliki bekas goresan seperti pernah dicongkel, dan ada bekas jejak kaki di sekitar pintu tersebut. "Kita harus lebih hati-hati," kata Izuna. "Bekas ini tidak lebih dari seminggu. Bisa jadi musuh kita sudah lebih dulu menyusuri tempat ini."

El menyentuh goresan di pintu itu dengan alis berkerut. "Jika mereka sudah di sini, kenapa brangkas itu belum ditemukan?"

“Bisa jadi mereka belum tahu lokasi tepatnya, sama seperti kita,” Nana menimpali sambil melirik ke arah pintu yang terbuka sedikit.

Izuna mengambil foto dari temuan tersebut menggunakan ponselnya untuk dokumentasi. “Kita laporkan ini ke Jean. Jangan bertindak gegabah dulu.”

***

Setelah memeriksa kawasan itu selama beberapa jam, kedua tim bertemu kembali di tempat yang sudah disepakati, sebuah kafe kecil yang terletak tidak jauh dari lokasi gudang. Jean memimpin diskusi singkat.

Never Flat Where stories live. Discover now