Di sebuah ruangan gelap dengan layar monitor memenuhi dindingnya, seorang pria bersetelan rapi berdiri di tengah, mengamati laporan berita yang tengah disiarkan di berbagai negara. Senyumnya tipis, penuh kepuasan.
Di salah satu layar, berita dari Inggris berkedip:
"Tiga orang buronan berbahaya yang diduga terlibat dalam aksi terorisme dan pembunuhan massal di London kini menjadi target utama kepolisian. Mereka adalah El Malik, Hafidz Rahman, dan Christine Vaughn. Pemerintah telah mengeluarkan perintah penangkapan internasional."
Di layar lain, berita dari Jepang muncul:
"Kerusuhan di Tokyo yang menyebabkan kehancuran beberapa gedung dan kematian warga sipil dikaitkan dengan tiga individu yang kini menjadi buronan internasional. Kepolisian Jepang bekerja sama dengan Interpol untuk menangkap mereka."
Pria itu menoleh ke anak buahnya. "Bagaimana dengan Indonesia?"
Seorang agen berpakaian hitam menjawab, "Pemerintah Indonesia telah menerima laporan yang kami buat. Mereka percaya bahwa El Malik dan rekan-rekannya adalah ancaman bagi keamanan nasional. Foto mereka kini terpampang di semua titik keamanan utama, termasuk bandara dan perbatasan."
Pria itu tersenyum puas. "Bagus. Dengan ini, mereka tidak akan bisa bergerak bebas. Jika mereka mencoba keluar dari negara ini, mereka akan langsung ditangkap."
Di tempat lain, dalam sebuah ruangan tersembunyi, El, Hafidz, dan Christine menatap layar tablet mereka dengan wajah tegang. Sebuah siaran berita dari Indonesia sedang ditampilkan.
*"Pihak kepolisian telah merilis wajah tiga buronan berbahaya yang diduga menjadi dalang dari serangkaian aksi kriminal internasional. Masyarakat diimbau untuk segera melapor jika melihat mereka."*
El mengepalkan tinjunya. "Mereka sudah mempermainkan semuanya. Sekarang seluruh dunia menganggap kita penjahat."
Christine menghela napas panjang. "Ini berarti kita tidak hanya berhadapan dengan musuh yang memburu kita, tetapi juga pemerintah dan kepolisian dari dua negara."
Hafidz menatap peta digital di hadapannya. "Mereka sudah mempersempit ruang gerak kita. Bandara, pelabuhan, dan jalur perbatasan pasti dijaga ketat. Kalau kita salah langkah sedikit saja, kita selesai."
El menatap mereka dengan penuh tekad. "Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus keluar dari sini tanpa terdeteksi... dan kita harus tetap menjalankan misi kita. Nana, Pak Adri, dan orang-orang lainnya masih dalam bahaya."
Christine mengangguk. "Kalau begitu, kita perlu rencana yang lebih cerdas. Kita harus menyusup ke bandara tanpa menarik perhatian."
Di sebuah gudang kosong yang mereka gunakan sebagai tempat berlindung sementara, El, Hafidz, Christine, dan anak-anak Warlem duduk melingkar di sekitar peta yang terhampar di lantai. Lampu redup menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding. Suasana tegang, tetapi mata mereka penuh tekad.
Hafidz membuka pembicaraan. "Kita harus pergi ke bandara tanpa menarik perhatian. Musuh pasti sudah menaruh mata-mata di berbagai titik, terutama setelah kita lolos dari mereka."
Christine menambahkan, "Kalau kita muncul dengan wajah asli, mereka pasti langsung tahu dan menghentikan kita. Kita butuh penyamaran."
El mengangguk, tangannya masih mengepal erat. "Oke, tapi kita butuh rencana yang lebih detail. Apa kita pakai kendaraan yang berbeda?"
Adit menyeringai. "Gue punya beberapa mobil yang bisa kita pakai, termasuk satu van yang bisa kita modifikasi jadi kendaraan pengangkut barang."
Fasma menyela, "Tapi kita nggak bisa pergi semua dalam satu kendaraan. Itu bakal mencurigakan."
YOU ARE READING
Never Flat
Genel Kurgu"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
