Keesokan harinya, hari Senin, pagi di SMA Jawara Subang terasa berbeda dari biasanya. Siswa-siswa berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara bendera, namun kali ini suasana lebih hidup, penuh dengan bisik-bisik dan rasa penasaran. Kabar kemenangan Azeel Malik di kompetisi puisi nasional telah menyebar, dan semua orang menunggu pengumuman resmi dari sekolah.
Setelah upacara selesai, kepala sekolah, Pak Arif, berdiri di depan mikrofon. Beliau tersenyum lebar, memandangi para siswa dengan bangga. “Selamat pagi, anak-anak. Sebelum kita bubar, ada satu hal yang ingin saya umumkan pada hari yang sangat istimewa ini.”
Suasana lapangan menjadi hening, dan semua mata tertuju pada Pak Arif, yang kemudian memanggil nama El dengan suara lantang. “Azeel Malik, siswa kita dari kelas XI IPS 1, telah berhasil meraih juara satu dalam Lomba Baca Puisi tingkat nasional, dan membawa pulang Piala Rendra untuk SMA Jawara Subang!”
Tepuk tangan bergema di seluruh lapangan. Teman-teman sekelas El bersorak gembira, dan beberapa guru tersenyum bangga, bertepuk tangan untuk siswa yang sudah membawa nama baik sekolah.
“Silakan maju ke depan, Azeel,” kata Pak Arif, memintanya untuk menerima penghargaan simbolis di depan seluruh siswa dan guru yang hadir.
Dengan langkah sedikit gugup namun bahagia, El berjalan ke depan lapangan sambil membawa Piala Rendra yang sejak semalam ia simpan dengan hati-hati. Piala itu berkilauan di bawah sinar matahari pagi, menjadi simbol prestasi yang berhasil ia raih.
Pak Arif mengulurkan tangan dan menepuk bahunya dengan bangga. “Kami semua di SMA Jawara Subang bangga padamu, Azeel. Tidak hanya karena kamu berhasil menjadi juara, tapi juga karena kamu telah menunjukkan dedikasi, kerja keras, dan keberanian untuk tampil dan bersaing di tingkat nasional. Kamu adalah inspirasi bagi kita semua.”
El membungkuk hormat, lalu berbicara dengan suara yang terdengar tegas namun penuh rasa syukur. “Terima kasih banyak untuk semua dukungan dari sekolah, guru-guru, dan teman-teman. Saya tidak akan bisa meraih ini tanpa kalian semua. Semoga kemenangan ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua, bahwa kita bisa mencapai hal besar jika kita berani bermimpi dan berusaha keras.”
Tepuk tangan kembali bergema. Nana yang berdiri di barisan siswa ikut bersorak dengan senyum lebar, merasa bangga atas pencapaian sahabatnya. Beberapa teman sekelas El bahkan mulai meneriakkan namanya, membuat El tersenyum malu-malu namun penuh rasa bahagia.
Pak Arif tersenyum saat melanjutkan, "Azeel Malik dari kelas XI IPS 1 telah mengharumkan nama sekolah kita dengan meraih juara satu di Lomba Baca Puisi nasional dan membawa pulang Piala Rendra!"
Di barisan XI IPS 1, teman-teman El bersorak gembira. El tersenyum lebar, merasa bangga sekaligus terharu. Dengan langkah mantap, ia maju ke depan lapangan, membawa piala berkilau yang sejak semalam ia simpan dengan hati-hati. Piala itu kini menjadi lambang kemenangan yang ia raih dengan kerja keras.
Pak Arif menepuk bahu El, lalu memberikan kata-kata motivasi. "Azeel, kami semua bangga padamu. Prestasimu adalah inspirasi bagi semua siswa di SMA Jawara Subang. Teruslah berjuang dan menjadi teladan bagi teman-temanmu."
Sambil melangkah kembali ke barisan, El disambut Nana dengan senyum lebar dan tepukan dari teman-teman XI IPS 1. "Gue bangga banget sama lo, Azeel!" Nana berseru.
Dengan senyum penuh rasa syukur, El menanggapi, "Thanks, Na. Ini kemenangan kita bersama."
Hari itu, Azeel Malik, siswa XI IPS 1, menjadi inspirasi di SMA Jawara Subang, membuktikan bahwa tekad dan mimpi yang kuat bisa membawa seseorang mencapai puncak.
Setelah upacara selesai dan semua siswa mulai bubar, Pak Arif dan beberapa guru menghampiri El. Senyum mereka merekah penuh kebanggaan, dan mereka segera mengajak El untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan atas prestasinya.
YOU ARE READING
Never Flat
Ficção Geral"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
