Subang

2 0 0
                                        

Basecamp Warlem terasa semakin panas dengan atmosfer tegang. Setelah insiden di bandara, mereka tahu musuh akan bergerak cepat. Tidak ada waktu untuk beristirahat terlalu lama.

Adit membuka peta digital di tablet dan menunjukkan rute perjalanan. "Kita nggak bisa lewat tol. Semua jalur utama pasti sudah diblokir atau setidaknya diperiksa ketat."

"Berarti kita harus lewat jalur alternatif," kata Hafidz, masih mengompres luka di pelipisnya.

"Betul," Christine menimpali. "Kita harus pakai kendaraan yang nggak mencolok, pakai penyamaran lebih baik, dan bergerak dalam kelompok kecil supaya nggak menarik perhatian."

Fasma mengangkat tangannya. "Kebetulan gue punya akses ke beberapa kendaraan di luar sini. Ada truk pengangkut sayur yang bisa kita pakai. Gue juga bisa urus identitas palsu, kalau perlu."

El mengangguk. "Bagus. Kita bakal menyamar sebagai pekerja pasar yang nganter barang ke daerah Subang."

Adit menoleh ke Fasma. "Lu bisa atur barang-barangnya juga?"

Fasma menyeringai. "Santai, bro. Gue punya orang dalam di pasar induk yang bisa kasih kita muatan asli buat alibi."

Mereka segera bersiap. Beberapa anak Warlem yang lain mulai mengumpulkan pakaian dan perlengkapan penyamaran. El, Hafidz, dan Christine kini mengenakan pakaian lusuh ala pekerja kasar, dengan topi dan masker untuk menutupi wajah mereka.

Setengah jam kemudian, sebuah truk tua dengan bak tertutup sudah siap di luar. Rasya duduk di balik kemudi. "Semua siap?"

El dan yang lain mengangguk. Mereka naik ke bak belakang, bersembunyi di antara tumpukan karung sayur dan buah.

Truk melaju perlahan, meninggalkan markas dan memasuki jalanan Jakarta yang sibuk. Malam sudah semakin larut, namun situasi kota masih cukup ramai.

Di perbatasan Jakarta menuju Karawang, mereka melihat beberapa pos pemeriksaan. Polisi dan tentara berjaga dengan ketat, menghentikan setiap kendaraan yang lewat.

Dari dalam bak, El bisa mendengar suara seorang petugas berbicara dengan Rasya.

"Tujuan ke mana?"

"Subang, Pak. Bawa sayuran buat pasar."

"Mana surat jalannya?"

Ada jeda sebentar sebelum Rasya menjawab. "Ada di dashboard, Pak."

Terdengar suara kertas-kertas dibolak-balik.

"Kok nggak ada segel resminya?" tanya petugas dengan nada curiga.

El menahan napas, begitu pula Christine dan Hafidz.

"Bos saya orangnya rada cuek, Pak," Rasya berusaha tetap santai. "Tapi kalau Bapak mau, saya bisa telepon langsung ke dia buat klarifikasi."

Petugas itu diam sejenak, lalu terdengar suara langkahnya bergerak ke belakang truk.

El meraih pisau kecil di sakunya, bersiap jika sesuatu terjadi.

Namun, tiba-tiba ada suara kendaraan lain yang berhenti di dekat mereka, diikuti suara petugas lain yang berteriak. "Hei! Itu mobil yang dicurigai, kejar!"

Kesempatan itu membuat petugas yang memeriksa mereka kehilangan fokus.

"Udah, jalan aja," kata suara petugas tadi. "Hati-hati di jalan!"

Truk pun kembali melaju, meninggalkan pos pemeriksaan tanpa insiden.

Dari dalam bak, Christine berbisik lega, "Nyaris..."

Hafidz menghembuskan napas panjang. "Kita nggak bisa terus begini. Pasti masih ada pos-pos lain di sepanjang jalan."

El menatap langit malam dari celah bak truk. "Tapi kita udah hampir sampai. Kita cuma perlu tetap tenang dan nggak bikin kesalahan."

Never Flat Where stories live. Discover now