Harapan

10 1 0
                                        

Di dalam pesawat, suasana terasa hening meski deru mesin terdengar jelas. El duduk di dekat jendela, pandangannya terpaku pada awan putih yang terhampar luas. Tangannya sedikit gemetar—bukan hanya karena ini baru kali kedua ia naik pesawat, tetapi juga karena bayangan misi besar yang masih membebani pikirannya. 

Nana, duduk di sebelahnya, memperhatikan gerak-gerik El. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan El dengan lembut, memberikan kehangatan yang menenangkan. El menoleh padanya, seolah terkejut, tapi tak melepaskan genggaman itu. 

"Lu masih takut, El?" Nana bertanya dengan nada lembut. 

El tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. "Enggak seberapa, Na. Gue cuma... banyak yang gue pikirin." 

Nana menatapnya dengan serius, tapi ada kelembutan di matanya. "Kalau semua ini udah selesai, El, apa yang bakal lu lakuin?" 

El terdiam sejenak, memandang ke luar jendela lagi, berpikir. "Jujur, gue nggak tahu. Hidup gue udah berubah total sejak semuanya terjadi. Gue cuma... pengen balikin semua seperti dulu. Tapi gue tahu itu nggak mungkin." 

Nana tetap menggenggam tangannya erat, mencoba memberi kekuatan. "Tapi lu pasti punya tujuan, kan? Kayak... lu mau mulai lagi dari mana? Lu punya gue, El. Kita bisa jalanin semuanya bareng-bareng." 

El menoleh padanya, menatap Nana dalam-dalam. Ada keraguan di matanya, tapi juga rasa syukur. "Gue nggak pernah mikir sejauh itu, Na. Selama ini gue cuma fokus buat nyelesain apa yang orang tua gue tinggalkan. Gue cuma... pengen mereka bangga. Tapi gue nggak tahu gimana caranya bangun hidup gue lagi setelah semuanya selesai." 

Nana tersenyum kecil, mencoba menguatkan El. "Kita bakal cari jalan bareng, El. Lu nggak sendiri. Kalau ini selesai, gue cuma pengen kita bisa hidup tenang. Mungkin di tempat yang jauh dari semua ini." 

El mengangguk pelan, mengapresiasi setiap kata Nana. "Lu bener, Na. Mungkin gue terlalu keras sama diri gue sendiri. Gue lupa kalau ada orang-orang yang peduli sama gue, termasuk lu." 

Nana tersenyum, menggenggam tangannya lebih erat. "Gue peduli, El. Lu harus inget itu. Gue bakal ada di sini sampai kapan pun lu butuhin." 

El merasa hatinya sedikit lebih ringan. "Thanks, Na. Gue nggak tahu apa yang bakal gue lakuin tanpa lu." 

Mereka terdiam sejenak, membiarkan momen itu berbicara lebih dari kata-kata. Nana kemudian menyandarkan kepalanya di bahu El, menutup matanya dengan tenang. El, meski masih gugup, merasa lebih tenang dengan Nana di sampingnya. Ia membiarkan pikirannya melayang jauh, mencoba memikirkan masa depan yang lebih baik—bersama Nana dan hidup yang baru. 

El menatap Nana yang masih bersandar di bahunya. Ia menarik napas dalam, mencoba merangkai kata-kata. "Na, kayaknya gue tahu apa yang bakal gue lakuin kalau semuanya selesai." 

Nana membuka matanya perlahan, menatap El dengan penasaran. "Apa, El?" 

El tersenyum kecil, meski masih terlihat sedikit gugup. "Gue bakal nerusin perusahaan orang tua gue. Selama ini gue pikir itu cuma beban, tapi... sekarang gue sadar, itu warisan yang mereka titipin buat gue. Gue nggak mau ngecewain mereka." 

Nana tersenyum lembut, senang mendengar El mulai menemukan arah. "Itu bagus, El. Orang tua lu pasti bakal bangga banget sama lu." 

"Tapi selain itu," lanjut El, "gue juga pengen jadi translator. Gue suka belajar bahasa, dan gue rasa gue bisa manfaatin itu. Mungkin gue juga bakal nulis buku. Gue pengen ceritain perjalanan gue, semua yang udah gue lewatin." 

Mata Nana berbinar mendengar rencana El. "Lu beneran? Gue bisa bayangin buku lu bakal keren banget, El. Banyak orang yang bisa belajar dari pengalaman lu." 

Never Flat Where stories live. Discover now