London 3

2 0 0
                                        

Ketegangan di dalam van semakin terasa ketika Sasha menyadari ada empat kendaraan yang membuntuti mereka. Ia langsung memberi tahu Jean, yang sedang mengemudi dengan tenang namun penuh kewaspadaan.

"Jean, kita diikuti," ucap Sasha dengan nada serius, sambil menatap monitor kecil di tangannya. Monitor itu terhubung ke kamera belakang van.

Jean melirik kaca spion dengan cepat. "Empat kendaraan, jarak teratur. Mereka mencoba menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok."

Hafidz, yang duduk di kursi belakang bersama El dan Nana, menoleh. "Mereka nggak cuma iseng ini. Kita harus segera ubah rencana."

Jean mengangguk. "Kita nggak bisa kembali ke mansion. Kalau mereka tahu markas kita, semuanya selesai."

Jean mengaktifkan headset komunikatornya, langsung menghubungi Margaret yang berada di ruang kontrol mansion bersama James.

"Margaret, kita diikuti. Empat kendaraan. Aku butuh koordinat lokasi alternatif," ucap Jean tegas.

Di layar monitor mansion, Margaret melihat titik lokasi van mereka. "Oke, dengar. Ada gudang kosong di sebelah barat kota. Tempat itu sudah dipersiapkan untuk situasi seperti ini," jawab Margaret sambil mengetik cepat.

James menambahkan, "Aku kirimkan koordinat ke GPS kalian sekarang. Jean, pastikan kalian tidak langsung menuju tempat itu. Ubah jalur beberapa kali untuk mengecoh mereka."

"Dimengerti," jawab Jean sambil memutar setir, membawa van ke jalur kecil yang lebih sempit.

"Pegangan yang erat," kata Jean, membelok tajam ke sebuah jalan kecil. "Kita harus hindari jalur utama. Hafidz, siap-siap kalau kita butuh tindakan cepat."

Hafidz mengambil senjata kecil dari tasnya, memasangnya dengan tenang. "Gue siap, bos. Kalau mereka makin dekat, tinggal kasih aba-aba."

El duduk tegang di sebelah Nana, yang menggenggam tangannya untuk menenangkannya. "Lo oke?" tanya Nana pelan.

El hanya mengangguk. "Gue cuma mikirin dokumen-dokumen itu. Kalau kita ketahuan, semuanya bisa berantakan."

Sasha memonitor pergerakan mobil musuh. "Mereka masih di belakang. Tapi satu kendaraan mengambil jalur lain. Mereka mungkin mencoba memotong jalan kita."

Jean menggerutu pelan. "Cerdas juga mereka. Tapi kita lebih siap."

Ketika sampai di sebuah persimpangan, Jean memutuskan untuk mengambil langkah berani. "Kita berpencar di sini. Sasha, Hafidz, ikut gue bawa van ini ke jalur utama. Kita akan jadi umpan."

Jean menoleh ke El dan Nana. "El, Nana, kalian turun di sini. Ikuti jalur darurat ini ke arah selatan. James dan Margaret akan memandu kalian lewat headset."

El menatap Jean ragu. "Lo yakin ini aman?"

Jean menepuk bahunya. "Kita nggak punya pilihan. Mereka butuh waktu untuk mengejar kita. Itu cukup untuk kalian kabur."

El dan Nana turun dari van dengan cepat, membawa tas yang berisi dokumen dan barang-barang penting lainnya. Mereka mengikuti jalur sempit yang diarahkan oleh James melalui headset.

"El, Nana, terus lurus ke selatan. Ada pintu keluar di ujung lorong itu. Dari sana, kalian akan menemukan jalan ke stasiun kecil," kata James dari ruang kontrol.

Jalan itu gelap dan sempit, dengan hanya cahaya dari senter kecil mereka. Nana menggenggam tangan El erat. "Lo yakin kita nggak akan ketahuan?"

El mencoba tersenyum meski gugup. "Kita harus percaya sama mereka."

Sementara itu, Jean membawa van ke jalan utama, memancing perhatian musuh. Dua kendaraan pengejar tetap mengikuti mereka.

"Pegangan!" seru Jean, membelok tajam ke jalur satu arah yang sempit.

Never Flat Where stories live. Discover now