Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas El tampak lebih riuh dari biasanya. Dari pagi, guru-guru dan murid-murid ramai membicarakan kabar bahwa salah satu kampus besar di Bandung akan mengadakan lomba baca puisi tingkat nasional. Ini adalah kesempatan langka bagi para siswa untuk menunjukkan bakat mereka di hadapan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
El duduk di bangkunya sambil mendengarkan obrolan teman-temannya yang antusias membicarakan lomba tersebut. El, yang sejak dulu memang menyukai sastra dan punya ketertarikan khusus pada puisi, merasa tertarik. Namun, sebelum ia sempat mengungkapkan minatnya, wali kelasnya, Pak Herman, masuk ke dalam kelas.
Pak Herman (menyampaikan pengumuman)
"Anak-anak, saya ada pengumuman penting. Kampus UNB di Bandung akan mengadakan lomba baca puisi tingkat nasional untuk pelajar, dan mereka mengundang perwakilan dari setiap sekolah. Ini kesempatan besar buat kalian yang punya minat di bidang sastra."
Sontak perhatian seluruh kelas tertuju pada Pak Herman. Beberapa murid mulai saling berbisik, ada yang terdengar tertarik, tapi ada juga yang ragu.
Pak Herman (melanjutkan)
"Jadi, siapa yang berminat untuk mewakili sekolah kita? Kalian yang ingin ikut bisa mengajukan diri, nanti akan diadakan seleksi di sekolah sebelum mengirim perwakilan ke lomba ini."
Saat itulah El mengangkat tangan, menarik perhatian teman-temannya.
El (dengan yakin)
"Saya, Pak. Saya mau mencoba ikut lomba baca puisinya."
Pak Herman tersenyum melihat inisiatif El. Selama ini, ia tahu bahwa El memang berbakat di bidang bahasa dan seni, terutama puisi.
"Bagus, El! Semangat kamu patut diapresiasi. Oke, nanti kita akan mengadakan seleksi singkat di ruang seni. Siapkan salah satu puisi terbaikmu, dan tunjukkan kemampuanmu di sana."
Mendengar itu, teman-teman El mulai bertepuk tangan dan memberi semangat. Beberapa teman dekatnya, seperti Reza dan Dani, memberikan dukungan dengan penuh antusiasme.
Reza (menyemangati)
"Wah, El! Keren banget. Gue yakin lo pasti bisa ngasih yang terbaik!"
Dani (tersenyum sambil bercanda)
"Pokoknya lo harus bikin kita bangga, bro. Sekali-sekali anak IPS nunjukkin kualitasnya!"
El hanya tertawa mendengar dukungan teman-temannya, tetapi dalam hatinya ia merasa cukup gugup juga. Mewakili sekolah di lomba puisi tingkat nasional adalah hal besar baginya. Namun, ia bertekad untuk memberikan yang terbaik.
***
Saat bel istirahat berbunyi, El segera menuju ke ruang seni untuk mempersiapkan diri. Beberapa siswa lain dari kelas-kelas lain juga tampak bersiap untuk mengikuti seleksi ini. Mereka masing-masing membawa puisi yang sudah dipersiapkan untuk dibacakan. El mengambil tempat duduk di salah satu sudut ruangan, membuka catatan puisinya, dan mulai membaca dalam hati, mencoba meresapi setiap kata dan emosi yang ingin ia sampaikan dalam pembacaan nanti.
Seleksi berjalan dengan suasana serius dan penuh perhatian. Satu per satu siswa dipanggil untuk membacakan puisinya di hadapan dewan juri yang terdiri dari guru-guru bahasa dan seni. Saat gilirannya tiba, El maju ke depan dengan percaya diri. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai membacakan puisinya dengan suara yang tenang namun penuh penghayatan.
Kata demi kata mengalir dengan penuh emosi, suaranya menyampaikan kedalaman makna setiap baris puisi. Guru-guru yang menjadi juri tampak terkesan, bahkan beberapa murid lain yang ikut menyaksikan seleksi itu terdiam, terhanyut dalam pembacaan El. Setelah selesai, ruangan hening sejenak, kemudian diikuti tepuk tangan meriah dari teman-teman dan guru-guru yang hadir.
***
Pada sore hari, Pak Herman mengumumkan hasil seleksi di kelas. Dengan bangga, ia menyebut nama El sebagai perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi tingkat nasional di kampus UNB Bandung.
YOU ARE READING
Never Flat
General Fiction"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
