Kembali

1 0 0
                                        

Di sebuah gudang tua yang terletak di pinggiran kota, El, Hafidz, dan Christine duduk dalam kelelahan. Nafas mereka masih memburu setelah berhasil meloloskan diri dari serangan musuh. Christine segera menutup pintu dan menyisir sekitar, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Hafidz meraih radio komunikasi dan segera menghubungi markas pusat.

"Markas, ini tim Alfa. Situasi darurat. Jean dan Sasha gugur. Margaret dan James juga. Nana... Nana tertangkap." Suara Hafidz serak, matanya memandang El sekilas, tapi pemuda itu hanya menunduk, tinjunya terkepal erat.

"Diterima, Tim Alfa. Status musuh?" suara dari radio terdengar jelas.

"Kami kehilangan kontak visual dengan mereka setelah pelarian. Kemungkinan mereka masih menyisir area. Kami dalam keadaan aman sementara ini, tapi kami butuh instruksi selanjutnya." Hafidz menutup komunikasi dan menghela napas panjang.

El, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri dengan ekspresi penuh kemarahan. "Kita tidak bisa hanya diam di sini! Kita harus kembali dan menyelamatkan Nana!"

Hafidz menggeleng keras. "El, itu bukan pilihan! Mereka jelas menggunakannya sebagai umpan untuk menangkap kita! Kita harus berpikir sebelum bertindak!"

"Aku tidak peduli! Kita sudah kehilangan terlalu banyak orang! Kau ingin kita membiarkan mereka menyiksa Nana?!" El maju mendekat, suaranya bergetar penuh emosi.

"Aku lebih memilih memastikan kita punya rencana matang daripada mati sia-sia!" Hafidz balas membentak, matanya tajam menatap El.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, El melayangkan pukulan ke wajah Hafidz. Bogem mentah itu mengenai pipi Hafidz, membuatnya sedikit mundur, tetapi ia segera membalas dengan meninju perut El. Pertarungan sengit pecah di antara mereka. Christine berusaha melerai, tapi keduanya saling menghantam, tak peduli luka yang mulai membekas di wajah mereka.

"Berhenti kalian berdua!" Christine akhirnya menarik Hafidz dengan kuat dan mendorong El ke belakang. "Ini bukan waktunya untuk bertengkar! Kita semua ingin menyelamatkan Nana, tapi bertindak gegabah hanya akan membuat kita terbunuh!"

El terengah-engah, matanya merah menahan emosi, tapi ia tetap diam. Hafidz menyeka darah di sudut bibirnya, masih menatap El dengan tatapan tajam.

Christine melanjutkan dengan nada lebih tenang namun tegas, "Kita butuh strategi. Nana masih hidup, dan kita masih punya kesempatan. Tapi jika kita mati sekarang, siapa yang akan menyelamatkannya?"

Hening menyelimuti ruangan. El menghela napas berat, lalu membuang muka. Hafidz akhirnya melangkah mundur, memilih untuk menenangkan dirinya.

"Kita istirahat sebentar, lalu kita buat rencana baru." Christine menatap keduanya dengan serius. "Nana butuh kita. Jangan biarkan emosi merusak segalanya."

El akhirnya mengangguk pelan, masih dengan kemarahan yang membara di matanya, tapi kali ini ia memilih untuk menahannya. Hafidz pun menghembuskan napas panjang dan duduk kembali.

Beberapa saat kemudian, suara notifikasi dari tablet yang mereka bawa menarik perhatian. Christine dengan cepat meraihnya dan melihat panggilan video masuk. Dengan ragu, ia menekan tombol jawab.

Layar menampilkan sosok pria bertopeng duduk santai di sebuah ruangan gelap. Di belakangnya, Nana tampak terduduk di kursi dengan tangan terikat, wajahnya dipenuhi luka lebam. Mata El membelalak penuh kemarahan.

"Ah, akhirnya kalian menjawab," suara pria itu terdengar santai. "Seharusnya kalian tidak membuat segalanya menjadi rumit. Jika saja kalian menyerahkan El sejak awal, mungkin semua ini tidak perlu terjadi."

"Lepaskan Nana!" El berteriak, tinjunya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Pria bertopeng itu tertawa pelan. "Kau benar-benar keras kepala. Tapi mungkin kau ingin tahu sesuatu yang menarik? Kami memiliki semua informasi dari mansion Margaret. Kami tahu di mana brangkas itu berada... dan juga lokasi markas utama Pak Adri."

Never Flat Where stories live. Discover now