Sinar mentari pagi menyapu halaman luas tempat upacara penghormatan terakhir digelar. Nama-nama mereka yang gugur terpahat di batu nisan yang berjajar rapi, sebuah pengingat atas pertempuran yang telah mereka lalui. El berdiri di depan makam mereka, mengenakan setelan hitam sederhana, tangannya menggenggam erat tangan Nana.
Hafidz dan Christine berdiri tak jauh darinya, mata mereka menatap nisan Rasya, Adit, Fasma, dan anak-anak Warlem lainnya yang telah pergi. Wajah mereka semua masih dipenuhi kesedihan, tetapi ada keteguhan di dalamnya. Mereka telah berjuang, kehilangan, dan akhirnya menang—tetapi dengan harga yang mahal.
Dani dan Rian datang membawa bunga putih, meletakkannya di atas makam teman-teman mereka dengan hati yang berat. **"Seharusnya kita semua bisa duduk di Warlem, ngobrol seperti dulu,"** kata Rian pelan. **"Tapi hidup enggak sebaik itu buat kita."**
El menarik napas panjang, merasakan perih di dadanya. **"Mereka enggak mati sia-sia,"** katanya, suaranya dalam dan tegas. **"Kita ada di sini karena mereka memilih untuk melawan. Karena mereka percaya bahwa kita bisa menang."**
Nana menatapnya dengan lembut, lalu meremas tangannya lebih erat. **"Kita harus tetap berjalan ke depan, El. Mereka ingin kita hidup, bukan terus terjebak dalam kesedihan."**
El menutup matanya sejenak, membiarkan angin membawa rasa sesaknya sebelum ia menghembuskan napas lega. Semuanya akhirnya telah berakhir.
---
Siang itu, El, Nana, Hafidz, Christine, dan anak-anak Warlem yang tersisa berkumpul di dalam ruang konferensi salah satu gedung bisnis terbesar yang dulu dimiliki orang tua El. Di depan mereka, ada dokumen yang berisi semua informasi mengenai perusahaan yang kini menjadi tanggung jawab El.
**"Jadi, ini semua yang ada di dalam brankas,"** kata El sambil menatap layar proyektor yang menampilkan berbagai aset, saham, dan rencana bisnis masa depan yang telah disiapkan oleh ayah dan ibunya. **"Mereka bukan hanya sekadar pengusaha biasa. Orang tuaku sudah membangun jaringan yang lebih luas dari yang kukira."**
Nana duduk di sebelahnya, melihat data dengan penuh perhatian. **"Ini bukan sekadar perusahaan biasa, El. Ini adalah warisan. Ini sesuatu yang bisa kita jaga dan kembangkan."**
El mengangguk. **"Dan aku enggak mau jalan sendiri."**
Ia menatap anak-anak Warlem yang tersisa—Dani, Rian, Wawan, dan beberapa orang lainnya yang selamat. Mereka semua sudah melalui begitu banyak hal bersamanya.
**"Mulai hari ini, kita akan membangun ulang hidup kita. Aku ingin kalian ada di sini, sebagai bagian dari perusahaan ini. Kalian bukan hanya teman, kalian adalah keluarga."**
Mata Dani berbinar, sementara Rian tertawa kecil. **"Jadi, dari anak-anak Warlem yang dikejar-kejar, kita sekarang jadi pebisnis? Enggak nyangka hidup bisa kayak gini."**
El tersenyum. **"Hidup selalu penuh kejutan."**
Lalu ia menatap Hafidz dan Christine. **"Dan kalian berdua... Aku ingin kalian tetap jadi bagian dari ini. Aku ingin kalian jadi penjaga utama perusahaan ini. Aku butuh seseorang yang bisa memastikan bahwa tidak ada lagi orang seperti Reiner yang mencoba menghancurkan hidup kita."**
Hafidz menyeringai. **"Tentu saja. Aku suka pekerjaan yang ada aksinya."**
Christine mengangguk mantap. **"Kalau ada yang macam-macam, mereka harus berhadapan denganku dulu."**
El merasa beban di pundaknya sedikit lebih ringan. Dia tahu ini bukan akhir dari segalanya. Dunia bisnis tidak kalah berbahaya dibandingkan dengan pertempuran yang mereka lalui. Akan ada tantangan baru, musuh baru, dan pertarungan baru.
Tapi kali ini, dia tidak akan sendirian.
Ia menoleh ke Nana yang tersenyum hangat di sampingnya. Bersama-sama, mereka akan menulis babak baru dalam hidup mereka—dengan kekuatan, kebijaksanaan, dan tekad untuk melindungi apa yang telah mereka bangun.
El menarik napas panjang, lalu tersenyum. **"Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Dan kita akan menjalaninya bersama."**
YOU ARE READING
Never Flat
Ficción General"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
