Penjelasan

3 1 0
                                        

Tak lama setelah situasi mulai terkendali, sirene ambulans dan suara kendaraan pihak berwajib terdengar semakin mendekat, memenuhi halaman kampus. Beberapa tenaga medis segera keluar dari ambulans dan menuju ke kerumunan di sekitar aula, sementara petugas polisi mulai menyelidiki tempat kejadian. Nana, yang masih terguncang, segera dibawa ke belakang ambulans untuk diperiksa, ditemani oleh El dan orang tuanya yang terlihat begitu khawatir.

Di belakang ambulans, seorang paramedis dengan lembut membersihkan luka kecil di lengan Nana dan memeriksa kondisinya secara menyeluruh. El berdiri di sampingnya, memperhatikan dengan seksama, merasa lega karena Nana tidak mengalami luka serius. Di sisi lain, paramedis lain juga mendekati El, membersihkan luka kecil di pelipisnya yang ia dapatkan saat bergumul dengan pria bersenjata tadi.

“El, lo baik-baik aja, kan?” tanya Nana dengan wajah khawatir, melihat ada sedikit memar di sisi wajah El.

El tersenyum tipis, menenangkan Nana. “Gue nggak apa-apa, Na. Luka kecil aja. Yang penting lo aman sekarang.”

Nana menghela napas lega, tetapi kekhawatiran tetap tampak di matanya. Orang tuanya berdiri di dekat mereka, mengusap bahu Nana dengan lembut, mencoba menenangkan putri mereka. Mereka sesekali menatap El, seolah mengucapkan terima kasih tanpa kata-kata atas keberanian El yang telah menyelamatkan putri mereka dari situasi berbahaya itu.

Tak lama kemudian, seorang mahasiswa yang tadi ikut menyaksikan kejadian di aula mendekat dengan langkah ragu-ragu, diikuti oleh sekelompok orang yang berpenampilan rapi dan tampak seperti agen atau pejabat keamanan. Salah satu dari mereka, seorang pria berjas hitam dengan wajah serius, menghampiri El dan Nana dengan pandangan penuh perhatian.

“Maaf, apakah Anda yang bernama Azeel Malik?” pria tersebut bertanya, suaranya tenang namun tegas.

El sedikit terkejut, tak menyangka ada pihak lain yang juga mencari dirinya. Sambil menatap pria tersebut dengan bingung, El mengangguk pelan. “Iya, saya Azeel Malik… atau biasa dipanggil El. Ada yang bisa saya bantu?”

Pria itu melirik ke arah Nana, orang tuanya, dan paramedis yang tengah sibuk mengurus mereka, sebelum kembali menatap El dengan pandangan serius. “Kami dari pihak keamanan khusus, dan kami telah menerima laporan terkait insiden ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu kami bicarakan dengan Anda. Jika memungkinkan, bisakah kita berbicara di tempat yang lebih tenang?”

El merasa sedikit cemas namun juga penasaran dengan tujuan kedatangan mereka. Ia menoleh pada Nana dan orang tuanya, memastikan mereka baik-baik saja terlebih dahulu. Orang tua Nana mengangguk memberi isyarat bahwa mereka akan menemani Nana di sana, meyakinkan El untuk mengikuti pria tersebut.

El menarik napas dalam-dalam dan menatap pria itu dengan tegas. “Baiklah, mari kita bicara.”

El, Nana, dan orang tuanya mengikuti para agen khusus ke sebuah ruangan di kampus yang sudah disiapkan. Suasana terasa tegang dan penuh tanda tanya, terutama bagi El yang sama sekali tidak menduga bahwa akan ada kejadian seperti ini di hari wisudanya.

Salah satu agen, pria berjas hitam yang tampak paling berwibawa, memulai pembicaraan. “Perkenalkan, nama saya Bapak Adri, dan kami adalah tim khusus yang bekerja untuk almarhum ayah dan ibu Anda, El.”

El tertegun, tidak menyangka bahwa orang tuanya, yang ia kenal hanya sebagai pengusaha biasa, ternyata memiliki keterlibatan dengan tim khusus semacam ini. Pikirannya mulai berputar, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Nana menatapnya dengan penuh keprihatinan, sementara kedua orang tua Nana mendengarkan dengan seksama, berusaha memahami situasi ini.

“Sejak beberapa tahun lalu, ayah dan ibu Anda, Tuan dan Nyonya Malik, telah berurusan dengan persaingan bisnis yang cukup rumit dan, sayangnya, penuh risiko. Mereka adalah pengusaha sukses di bidang teknologi dan konstruksi, serta memiliki banyak investasi yang bernilai tinggi. Sayangnya, beberapa pesaing melihat kesuksesan mereka sebagai ancaman. Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah menerima sejumlah ancaman serius yang ditujukan kepada mereka, dan kami selalu berusaha melindungi mereka dengan semaksimal mungkin.”

Never Flat Where stories live. Discover now