Puisi 2

5 1 0
                                        

Setelah tampil, El dan Nana memutuskan untuk berkeliling kampus sambil menunggu pengumuman 25 besar yang akan lolos ke babak semifinal. Kampus UNB Bandung itu terasa ramai dan hidup, penuh dengan siswa dari berbagai sekolah yang sedang bersantai atau sekadar berbincang.

“Eh, keren juga ya kampus ini,” ujar Nana sambil melihat-lihat gedung-gedung besar dengan arsitektur modern di sekitarnya. “Gue jadi pengen masuk kuliah di sini.”

El tersenyum. “Gue juga kepikiran sih, kampusnya asik banget. Lu lihat tuh, ada taman sama kolamnya juga. Kayaknya enak buat belajar atau santai-santai.”

Mereka berjalan melewati taman kampus yang rimbun, di mana banyak mahasiswa duduk sambil membaca atau bercengkerama. Nana melirik ke arah El dengan senyum usil. “El, lo udah mikirin mau kuliah di mana nanti?”

El menggaruk kepala, sedikit canggung. “Jujur, belum. Tapi, ngeliat kampus kayak gini bikin gue jadi lebih semangat. Rasanya kayak ada motivasi buat ngejar sesuatu yang lebih besar.”

“Ya, lo udah keren banget lah di sini aja. Udah berani tampil, udah bikin bangga sekolah. Gue yakin lo bakal bikin bangga di mana pun lo kuliah nanti,” ucap Nana sambil tersenyum.

Mereka terus berjalan-jalan, menikmati suasana kampus yang segar dan melihat berbagai fasilitas kampus seperti perpustakaan, gedung seni, dan lapangan olahraga. Sesekali mereka bercanda dan tertawa, mengobrol tentang masa depan, impian, dan lomba yang baru saja mereka lewati.

Saat itu, ponsel El bergetar, menandakan sebuah pesan dari panitia. Ia membuka pesan tersebut, dan wajahnya seketika berubah serius.

“Nana, pengumuman 25 besar udah keluar. Yuk, kita balik ke aula buat lihat,” kata El dengan nada penuh antusias.

Nana tersenyum, matanya berkilat penuh harapan. “Ayo! Semoga nama lo ada di daftar itu, El. Gue yakin lo pasti masuk.”

Dengan perasaan campur aduk antara gugup dan bersemangat, mereka bergegas menuju aula. Tangan El sedikit gemetar, tapi dukungan Nana membuatnya tetap merasa optimis dan siap menghadapi hasil yang akan diumumkan.

El dan Nana bergabung dengan kerumunan peserta lainnya di aula, menunggu dengan tegang saat panitia mulai mengumumkan nama-nama yang lolos ke babak semifinal. Suasana hening; semua mata tertuju pada panggung, berharap mendengar nama mereka dipanggil.

Satu per satu nama disebutkan, hingga akhirnya, “Azeel Malik, dari SMA Jawara Subang!” Panitia menyebut nama El dengan jelas.

Nana langsung berseru pelan, “Yes, El! Lo lolos!”

El tersenyum lebar, matanya berbinar penuh rasa syukur dan bangga. “Gue nggak nyangka bisa sampai sejauh ini. Thanks banget, Na, lo udah nemenin dan dukung gue.”

Nana menepuk punggungnya dengan bangga. “Gue udah bilang, lo itu keren! Besok, lo tinggal kasih yang terbaik lagi di semifinal, dan gue yakin lo bisa sampe final.”

Panitia kemudian mengumumkan bahwa babak semifinal dan final akan diadakan besok, mulai siang hingga malam puncak penutupan. Semua peserta yang lolos diinstruksikan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri dengan baik untuk hari penting tersebut.

Keluar dari aula, El menarik napas panjang, menatap Nana dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan gugup. “Na, gue harus siapin mental banget buat besok. Ini bener-bener di luar ekspektasi gue.”

Nana tertawa kecil, menatap El dengan senyum meyakinkan. “Tenang, bro. Gue bakal nemenin lo lagi besok. Lo udah kasih yang terbaik hari ini, tinggal terusin aja. Gue yakin lo bisa sampai ke puncak.”

Dengan semangat dan dukungan dari Nana, El merasa lebih siap menghadapi tantangan besok. Mereka pun pulang, mengatur strategi, dan memastikan El beristirahat dengan cukup, agar bisa tampil maksimal di semifinal dan final yang akan menentukan langkahnya di ajang lomba ini.

Never Flat Where stories live. Discover now