London

5 0 0
                                        

Sesampainya di bandara Heathrow, London, suasana dingin khas kota itu langsung menyambut El, Nana, dan timnya. El menarik napas dalam-dalam, masih belum terbiasa dengan perjalanan yang panjang tadi, tapi pandangannya segera tertuju pada kerumunan orang di pintu keluar bandara. Di antara orang-orang itu, seorang pria berdiri tegap, berpakaian sangat rapi, mengenakan setelan jas hitam dengan dasi sempurna. Ia memegang sebuah kertas putih bertuliskan “Malik” dengan huruf besar.

“Kayaknya dia yang jemput kita,” kata Jean, mengarahkan pandangannya ke pria itu.

Pria tersebut tidak berbicara sepatah kata pun ketika mereka mendekat. Ia hanya memberikan sedikit anggukan sopan dan segera berbalik, memimpin jalan keluar.

“Uh, nggak ada perkenalan, ya?” Hafidz berbisik, mencoba mencairkan suasana, tapi tidak ada yang menanggapi.

Begitu mereka tiba di luar, sebuah limosin hitam mengilap sudah menunggu. El melirik kendaraan mewah itu dengan sedikit tidak percaya. "Ini serius buat kita?" bisiknya pada Nana.

Nana mengangkat bahu, masih kebingungan seperti yang lainnya. “Gue rasa iya. Tapi... agak aneh juga, nggak ada basa-basi.”

Mereka semua masuk ke dalam limosin dengan suasana hati yang bercampur antara kagum dan waspada. Bagian dalam kendaraan itu dilapisi kulit berkualitas tinggi, dengan lampu-lampu kecil yang memberikan nuansa elegan. Ada beberapa minuman dan camilan mewah di sana, tapi tidak ada yang berani menyentuhnya. Mereka hanya saling bertukar pandang, merasa suasana ini terlalu formal dan misterius.

Pria tadi duduk di kursi depan, memisahkan dirinya dari yang lain tanpa satu pun kata. Limosin melaju dengan mulus keluar dari bandara, meninggalkan hiruk-pikuk Heathrow di belakang. Jalanan London yang sibuk, dengan kendaraan berlalu-lalang di tengah arsitektur klasik dan modern, menjadi pemandangan yang menarik perhatian Nana.

“El,” Nana memanggil pelan sambil menunjuk ke luar jendela. “Lihat deh, kota ini keren banget. Kapan-kapan kita keliling sini, ya?”

El mengangguk, meskipun pikirannya masih dipenuhi tanda tanya tentang pria misterius ini dan tujuan mereka. "Iya, Na. Tapi kayaknya sekarang fokus dulu sama tujuan kita. Gue rasa tempat yang kita tuju ini nggak bakal biasa aja."

Christine, yang duduk di pojok dengan sikap waspada, akhirnya angkat bicara. “Ini terlalu aneh. Kita dijemput orang tanpa nama, nggak ada penjelasan apa-apa, dan langsung dibawa kayak gini? Gue nggak suka.”

Jean mengangguk setuju. “Setuju. Ini mungkin bagian dari permainan mereka. Kita harus tetap siaga.”

Hafidz, meskipun masih mencoba membuat suasana lebih santai, kali ini ikut merasa tegang. “Ya, sih. Tapi kalau dipikir-pikir, limosin ini enak juga, ya. Jarang-jarang kita dapat tumpangan kayak gini.”

Sasha tersenyum kecil. “Tetap waspada aja. Kita nggak tahu apa yang menunggu di sana.”

Perjalanan itu terasa cukup panjang, meskipun jalanan London terbilang lancar. Akhirnya, limosin berbelok ke sebuah gerbang besi besar yang terbuka otomatis, memperlihatkan jalan panjang yang dihiasi pohon-pohon rapi di kanan dan kiri. Di ujung jalan itu berdiri sebuah mansion megah dengan arsitektur klasik khas Inggris, lengkap dengan taman yang indah dan air mancur di depannya.

“Wow,” Nana berbisik, matanya membelalak melihat bangunan itu. “Tempat ini... kayak di film-film.”

Limosin berhenti perlahan di depan pintu utama mansion. Pria tadi keluar dari mobil, membukakan pintu untuk mereka tanpa mengatakan sepatah kata pun, lalu memberi isyarat agar mereka mengikuti.

“Ini makin aneh,” gumam El. “Tapi nggak ada jalan lain. Yuk, kita masuk.”

Mereka semua turun dari limosin, saling bertukar pandang untuk memastikan mereka siap menghadapi apa pun yang ada di dalam. Mansion itu berdiri megah, tapi suasana misterius yang menyelimuti perjalanan mereka membuat semuanya terasa tidak sepenuhnya ramah.

Never Flat Where stories live. Discover now