Tokyo 3

8 1 0
                                        

Malam itu, di tengah suasana yang awalnya hening dan fokus pada analisis, Hafidz yang berjaga di luar tiba-tiba masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya tegang, jauh dari sikap santai dan bercandanya yang biasa.

"Kita punya masalah besar," katanya sambil menutup pintu dengan cepat. Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Jean dengan nada serius.

Hafidz melirik Christine, lalu menjelaskan, "Kita sudah dibuntuti. Mereka tahu kita ada di sini. Dan lebih buruk lagi, mereka sudah mulai memeriksa lokasi yang tadi kita kunjungi."

Wajah semua orang berubah tegang. Christine segera memeriksa perangkat pengawasan mereka, mencoba melacak aktivitas terbaru di sekitar lokasi. "Sial," gumamnya. "Dia benar. Ada pergerakan di sekitar lokasi tadi. Mereka nggak cuma memantau, tapi juga menyusup."

Izuna yang berdiri di sudut ruangan terlihat terpukul. "Bagaimana mereka bisa tahu? Aku yakin kita sudah sangat hati-hati."

Jean menghela napas dalam. "Mereka mungkin sudah memiliki jaringan yang kuat di sekitar sini. Kita memang berhasil keluar tanpa jejak, tapi mereka punya cara lain untuk mendapatkan informasi."

El yang duduk di pojok ruangan menatap layar dengan tajam. "Kalau mereka tahu, berarti waktu kita semakin sempit, kan? Mereka bisa saja menemukan sesuatu di sana sebelum kita."

"Benar," balas Christine. "Dan kalau mereka menemukan jalur bawah tanah lebih dulu, kita kehilangan kesempatan."

Sasha mencoba meredakan ketegangan dengan nada tenangnya. "Oke, kita nggak bisa panik sekarang. Kita masih punya keunggulan. Kita tahu jalur itu lebih baik daripada mereka."

Jean memukul meja ringan untuk menarik perhatian semua orang. "Kita harus bertindak cepat. Besok, kita kembali ke lokasi itu, tapi kali ini dengan strategi yang lebih matang. Christine, siapkan perangkat pengacak sinyal untuk memastikan mereka nggak bisa melacak kita lagi."

Christine mengangguk. "Akan kuatur sekarang."

Hafidz menambahkan, "Aku juga bisa menyiapkan beberapa umpan untuk mengalihkan perhatian mereka. Kalau mereka fokus ke tempat yang salah, kita punya waktu lebih untuk bergerak."

Izuna memandang El dengan raut serius. "El, kamu harus benar-benar siap. Semua ini tentangmu. Kalau mereka menemukan brangkas itu sebelum kita, risikonya akan sangat besar."

El mengangguk pelan, meskipun matanya menyiratkan beban yang ia rasakan. "Gue nggak akan mengecewakan kalian. Apa pun yang harus gue lakukan, gue akan lakukan."

Nana menggenggam tangan El erat-erat, memberikan dukungan diam-diam. "Kita semua di sini buat lo, El."

Jean lalu memberi aba-aba. "Oke, malam ini kita tingkatkan pengawasan. Hafidz, kau dan Sasha berjaga di luar. Christine, pastikan sistem kita nggak bisa ditembus. Kita nggak akan membiarkan mereka mendekati kita sebelum waktunya."

Semua langsung bergerak sesuai tugas masing-masing. Malam itu, markas kecil mereka berubah menjadi pusat aktivitas, penuh dengan persiapan dan strategi untuk menghadapi ancaman yang semakin mendekat. El dan Nana, meskipun merasakan tekanan yang besar, tahu bahwa mereka harus terus maju. Tidak ada jalan lain selain memenangkan perlombaan ini.

***

Pagi itu, di ruang pertemuan kecil yang diatur seperti markas sementara, Jean membuka sesi briefing dengan nada tegas. Di hadapannya, El, Nana, Izuna, Christine, Sasha, dan Hafidz duduk melingkar sambil memperhatikan layar proyeksi yang menampilkan denah lokasi jalur bawah tanah yang menjadi target mereka.

"Baik, semua dengar," ujar Jean sambil menunjuk peta dengan pointer digital. "Kita sudah tahu pihak lawan mulai memeriksa lokasi yang sama dengan kita. Artinya, kita harus bergerak lebih cepat, tapi tetap taktis. Satu langkah salah, kita kehilangan keunggulan."

Never Flat Where stories live. Discover now