Asap masih mengepul di udara. Suara ledakan dari drone yang mereka kirimkan ke gerbang masih menggema di kejauhan. El, Hafidz, Christine, dan anak-anak Warlem melangkah melewati puing-puing, menyisakan jejak darah prajurit musuh yang telah mereka habisi.
Dari ruang pertama, mereka mendengar langkah kaki berat. Prajurit musuh datang lebih banyak, tapi itu tidak menggentarkan mereka. **Peluru kembali berdesing.** Hafidz bergerak cepat, menyelinap ke balik meja kayu yang sudah hampir roboh, lalu mengarahkan senjata ke dua prajurit yang baru masuk.
**Dor! Dor!**
Dua tubuh jatuh dengan suara berat. Christine menendang meja ke depan sebagai perlindungan, lalu menarik dua pistolnya, menembakkan peluru dengan akurasi mematikan. Darah berceceran di lantai, menambah kekacauan yang sudah terjadi.
**"Terus maju! Jangan kasih mereka ruang buat regroup!"** El berteriak, suaranya penuh perintah.
Namun, saat mereka mulai merangsek ke ruang utama—tempat Pak Adri, Nana, dan orang tua Nana disekap—sesuatu yang tidak mereka duga terjadi.
**Mereka masuk ke perangkap.**
Begitu pintu utama didobrak, suara **klik** terdengar dari atas.
**Pelatuk jebakan diaktifkan.**
**Dor! Dor!**
Ledakan kecil terjadi di sudut ruangan, menyebabkan puing-puing beterbangan dan menyulitkan pandangan. Lalu, tiba-tiba...
**Puluhan prajurit musuh muncul dari bayangan.**
Mereka sudah menunggu.
Di tengah ruangan, Adit, Rasya, dan Fasma terlihat berlutut, tangan mereka terikat ke belakang, wajah mereka penuh luka dan lebam. Mata mereka menatap El dan yang lainnya, penuh harapan sekaligus ketakutan.
**Lalu ada Azriel.**
**DOR!**
Peluru ditembakkan dari jarak dekat.
**Kepala Azriel tertembak.**
Darah menyembur ke lantai. Tubuhnya terjatuh, tidak bergerak lagi.
**"TURUNKAN SENJATA KALIAN ATAU KAMI AKAN MEMBUNUH SEMUA ORANG DI SINI, SATU PERSATU!"**
Suara pemimpin musuh menggema, keluar dari bayangan.
**Senjata-senjata musuh diarahkan langsung ke kepala mereka.**
El membeku. Nafasnya tercekat. Hafidz mengepalkan tinjunya, giginya saling beradu karena amarah yang ditahannya. Christine menoleh, matanya bergerak cepat mencari celah untuk melawan, tapi kali ini... mereka benar-benar terpojok.
**Prajurit musuh semakin merapat.**
**Tidak ada jalan keluar.**
El mengepalkan rahangnya. Jari-jarinya di pelatuk terasa gatal untuk menembak, tapi ia tahu jika ia bergerak sedikit saja, Adit, Rasya, dan Fasma akan langsung mati di depan matanya.
Christine menoleh ke Hafidz. **"Kita nggak punya pilihan."**
Hafidz menggeram, tapi ia tahu benar. Mereka sudah kalah.
Dengan penuh kebencian, El akhirnya menurunkan senjatanya.
Satu per satu mereka melepaskan senjata dan mengangkat tangan mereka perlahan.
Musuh menyeringai puas.
**"Sekarang, kalian akan membawa kami ke brankas."**
Darah di lantai masih menggenang, tubuh Azriel terkapar tak bernyawa. Udara di ruangan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. El dan yang lainnya terpaksa menyerah. Tangan mereka ditarik kasar ke belakang, besi dingin borgol dikunci kuat di pergelangan tangan mereka.
YOU ARE READING
Never Flat
Ficción General"Dalam putaran waktu yang tak terhitung. Kita melangkah dalam harap dan ragu. Layaknya angin yang datang dan berlalu. Kehidupan itu berbisik; teruslah berjalan walau tak tahu."
