London 4

1 0 0
                                        

Van berbelok tajam ke kanan, meluncur melewati jalanan kota London yang basah setelah hujan. Cahaya lampu jalan memantul di aspal hitam, menciptakan bayangan panjang di sekitar mereka. Sasha yang duduk di kursi penumpang depan terus berkomunikasi dengan Margaret melalui alat komunikasi khusus.

"Margaret, kita masih dibuntuti! Kita butuh rute alternatif sekarang!" ucap Sasha dengan nada mendesak.

Di ruang kontrol mansion, Margaret menatap monitor dengan ekspresi tegang. Melalui sistem pengawasan kota, dia bisa melihat dua SUV hitam yang mengejar van El dan timnya.

"Dengar baik-baik," suara Margaret terdengar jelas di telinga mereka, "Ambil jalur ke selatan dan masuk ke area gudang di dekat pelabuhan. Ada beberapa gang sempit di sana, kalian bisa menghilang. Aku akan beri instruksi lebih lanjut."

Jean yang mengemudi segera berbelok ke arah selatan, ban van berdecit saat melewati tikungan tajam. Hafidz yang duduk di belakang menyiapkan senjata, sementara Christine mengawasi pengejar mereka dari jendela belakang.

"Mereka semakin dekat!" Christine melapor sambil mengokang senjatanya. "Kita tidak bisa terus menghindar."

El menggenggam pistolnya dengan erat, perasaan marah dan gelisah bercampur jadi satu. Nana di sebelahnya menatapnya dengan ekspresi serius.

"Lu siap, El?" tanya Nana, suaranya tenang tapi penuh kewaspadaan.

El mengangguk, "Siap."

Tiba-tiba, suara tembakan menggema di udara. Salah satu SUV hitam melepaskan tembakan ke arah ban van mereka. Jean berusaha mengendalikan kendaraan dengan susah payah.

"Sial! Mereka mencoba membuat kita kehilangan kendali!" geram Jean.

Hafidz yang sudah tak tahan lagi membuka jendela belakang dan melepaskan beberapa tembakan balasan. Salah satu peluru mengenai kaca depan SUV pertama, membuat pengemudinya kehilangan kontrol sesaat.

"Bagus, Hafidz! Terus tembak!" seru Sasha.

Sementara itu, di ruang kontrol, Margaret dan James terus mengawasi pergerakan tim melalui kamera pengawas kota. Margaret mengetik cepat di keyboardnya.

"Jean, belok kiri di tikungan berikutnya dan masuk ke gang sempit. Aku akan memanipulasi lampu lalu lintas agar mereka terhambat."

Jean mengikuti instruksi dengan cekatan. Van berbelok masuk ke gang sempit di antara gudang tua. Pengejar mereka tidak semudah itu mengikutinya, tetapi masih ada beberapa yang berhasil masuk.

"Kita harus pisah!" seru Jean. "El, Nana, Christine, keluar dan cari jalur lain. Hafidz dan Sasha ikut aku!"

Tanpa ragu, El dan Nana melompat keluar dari van yang melambat, diikuti Christine. Mereka menyelinap di antara kontainer-kontainer besar di pelabuhan, suara ombak dan angin malam menemani langkah mereka.

El merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini bukan hanya soal misi—ini juga soal bertahan hidup. Nana menggenggam tangannya sebentar, memberi isyarat bahwa dia ada di sisinya.

"Kita harus cari jalan keluar lain," bisik Christine.

Di belakang mereka, suara langkah kaki mendekat. Musuh sudah mulai mencari mereka.

El menarik napas dalam. Ini adalah pertarungan yang harus mereka menangkan, atau semuanya akan berakhir di sini.

Hujan deras mengguyur kota London, membuat jalanan licin dan samar tertutup kabut tipis. Van yang ditumpangi El dan tim melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha menghindari pengejar yang semakin agresif. Margaret dan James, yang berada di ruang kontrol mansion, terus memberi arahan melalui earpiece.

Never Flat Where stories live. Discover now