31

865 123 36
                                        


Sunoo tampak melamun di tempatnya, setelah mendengar teriakan heboh yang tak jauh dari tempatnya, akhirnya Sunoo kembali tersadar.

Melihat bahwa teriakan itu berasal dari beberapa bapak-bapak yang berhasil menangkap ikan.

Sunoo melihat ke arah pancingannya, kemudian mendengus sebal. Ia belum dapat apapun daritadi.

Sunoo berdiri dan pergi keruangan Jake untuk mengambil ponselnya. Sunoo baru sadar, bahwa dari kemarin ia tak mengabari kedua sahabatnya.

Sunoo membuka matanya lebar kala melihat banyaknya panggilan dan pesan dari Doyoung.

Dengan cepat ia menekan tombol telepon, berniat menelpon balik Doyoung. Namun naas, kuotanya habis.

Sunoo melihat sekitarnya, dan menemukan sebuah kertas yang tertempel jelas setelah ia keluar dari ruangan Jake.

Password wifi silahkan tanya ke meja kasir.

Sunoo segera berjalan ke meja kasir, yaitu dekat pintu masuk. Langkahnya memelan kala melihat seseorang yang tampak tak asing sedang membelakanginya.

"Travis..." Ucap Sunoo pelan

Situasi ini. Entah kenapa Sunoo ingin berlari menjauh. Ada apa dengannya?  Perasaan tidak nyaman ini, Sunoo tak mengerti kenapa.

Karin, selaku kasir di pemancingan itu tersenyum ramah ke arah Sunoo. Membuat Haruto ikut menoleh ke arah belakang.

"Sunoo..." Panggil Haruto

Sunoo menelan ludahnya susah payah. Kemudian ia balas senyum ramah Karin. Melangkah maju ke depan meja. Menghiraukan Haruto yang kini menatapnya.

"Rin, password wifi nya apa ya?"

Karin memberikan selembar kertas pada Sunoo. "Makasih ya." Ucap Sunoo setelah menulis password wifi itu.

Sunoo segera berjalan pergi sudah agak jauh dari kasir, tiba-tiba tangannya di cekal. Membuatnya menghentikan langkah yang tampak berat itu.

"Bisa kita bicara Noo?"

Sunoo menoleh ke arah Haruto, kemudian melirik Karin yang tampak sibuk dengan ponselnya. Dan Kini Karin pergi setelah di panggil oleh salah satu pelanggan yang tampak kesusahan.

"Bicara tentang apa?"

Haruto sendiri tak tau, ia hanya ingin berbicara dengan Sunoo. Ia hanya ingin menenangkan hatinya sendiri. Menghilangkan rasa bersalah yang entah sampai kapan singgah di hatinya.

"Nggak ada kan? Kalo gitu gue permisi." Sunoo menyentuh tangan Haruto dan melepaskan tangan Haruto yang menggenggam lengannya.

"Tentang kita?"

Sunoo yang baru saja melangkah itu kembali menoleh dengan raut wajah bingung. "Kita? Lu sama gue emangnya apa yang bisa di bicarakan lagi?"

"Perusahaan gue bangun kerjasama sama perusahaan orang tua lu. Hubungan baik yang kita jalanin, bisa jadi nilai plus untuk bisnis ini."

Sunoo terkekeh, "Terus lu mau gue ngelakuin apa? Lu mau manfaatin hubungan yang dulu pernah ada untuk bisnis itu? Itu urusan lu Vis. Jangan narik gue ke dalam urusan lu."

"Gue cuma mau kita balik jadi temen lagi Noo.." Haruto menunduk.

"Temen? Lu lagi ngelawak? Lu berharap gue sama lu jadi temen lagi? tapi lu dimana disaat gue sekarat waktu itu? Dimana lu disaat gue bahkan nggak ngenalin diri gue sendiri? Dimana lu saat gue bener-bener butuh lu waktu itu?"

Haruto mendongak, hatinya kembali diselubungi rasa bersalah. Wajah kecewa itu kembali Sunoo tampakan untuknya.

"Gue hampir mati Vis, bisa aja gue nggak bangun saat itu. Tapi apa saat itu lu peduli? Apa saat itu bahkan lu mikirin kondisi gue?" Sunoo menghela nafas panjang, berusaha menahan air matanya yang sudah di ujung.

CHAOTICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang