34

814 107 31
                                        

Cafe sudah akan tutup. Di lihat dari Sunoo yang sudah menghitung ulang penghasilan hari ini, Ni-ki yang menaikan kursi ke meja.

Jungwon yang duduk santai karena tugasnya sudah selesai sejak tadi. Dan Heeseung yang duduk di sebelah Jungwon sembari memakan keripik kentangnya.

Selesai menghitung, Sunoo masuk ke ruang staff, berniat  mengambil tasnya.

Sunoo mengerutkan dahinya, dimana tas nya??

"Sunoo!! Kesinilah kau wahai bidadari! Datang dan temui aku!" Panggil Heeseung

Sunoo keluar dengan wajah bingung, kemudian semakin bingung kala melihat Jake menggendong tasnya.

"Kemarin ketinggalan di ruangan gue. Mau gue balikin tadi siang. Tapi gue ada acara dadakan. Nih baru sempet."

Jake menyerahkan tas itu kepada pemiliknya. Sunoo kemudian menepuk jidatnya. Ia baru ingat.

Tadi pagi memang ia tak menggunakan tas, ia hanya membawa ponselnya saja.

"Makasih banyak ya."

"Sama-sama cantikk."

"Lah gue mah ganteng." Sahut Heeseung

Jake memutar bola matanya malas. "Gue ngomong sama Sunoo, bukan sama lu."

"Lah, gue mah cuma ngasih tau."

Jake berdecak. "Kalian udah mau tutup nih? Nggak nunggu Junkyu?"

"Lah, dia dari pagi tadi nggak muncul. Katanya ke produsen biji kopi. Padahal biasanya juga di anterin ke sini."

Jungwon menyenggol Heeseung untuk tutup mulut. Heeseung yang sadar akan ucapannya menoleh ke arah Sunoo. Di ikuti Jake, Jungwon dan Ni-ki.

"Junkyu ngehindarin gue ya?"

Heeseung mengangguk, "Pasti lah Noo. Dia nggak enak mau ketemu sama lu. Dia butuh waktu buat nerima semuanya. Fakta kemarin nggak baik buat dia."

Hal itu di angguki oleh ketiga pria lain. Sunoo tersenyum tipis.

Kenapa yang lari justru Junkyu? Apa yang merasa sakit di sini hanya Junkyu? Lalu bagaimana dengan Sunoo?

Mungkin karena tampak baik-baik saja, semua orang berpikir bahwa dirinya memang baik-baik saja.

Sunoo mulai bertanya, apa dirinya baik-baik saja?

Dimana kepercayaan dirinya kemarin?

Kenapa setelah pulang dari acara makan malam kemarin, Sunoo mulai mempertanyakan semua pilihannya?

Apa ia akan kehilangan akalnya lagi karena terlalu banyak berpikir? Apa dia akan kembali seperti dulu? Kenapa Sunoo tidak dapat mengendalikan pikirannya lagi.

Sunoo mengepalkan tangannya erat, mencoba tenang.

"Gue pamit duluan ya. Kalian hati-hati." Ucap Sunoo

Sepeninggalan Sunoo, Ni-ki memukul lengan Heeseung. "Bang, mulutnya di kontrol dong!"

"Lah, Napa emang?"

"Gue dari tadi diem aja tuh merhatiin Sunoo. Setelah lu selesai ngomong, Sunoo kelihatan nggak nyaman. Lu mikir dong! Gimana perasaan Sunoo ketika Junkyu justru mengindari dia? Perkataan lu tadi secara nggak langsung menyalakan Sunoo tahu nggak??"

"Maksud lu apa sih Ki?" Tanya Heeseung, mukanya bingung. Dan Ni-ki ingin sekali melempar kursi ke kepalanya.

"Sunoo berusaha kelihatan baik-baik aja hari ini. Dia nggak mau kita canggung karena masalah itu. Tapi Junkyu justru kabur, ngebuat Sunoo merasa bersalah di sini. Seolah dia yang paling menderita, nggak mikirin perasaan Sunoo. Padahal yang perlu dia lakuin adalah nggak nambah masalah baru dengan kabur!" Jelas Niki kesal akan kebodohan Heeseung

CHAOTICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang