Gue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau.
Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati,"
Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading and enjoy the story
• • • •
"Jamet, buruan!" Flora berdecak kesal untuk kesekian kalinya. Jika saja bukan karena tiket konser yang ia idam-idamkan dari dulu, ia yakin tidak akan mau repot-repot pergi dengan pria ini. Lagi pula kenapa Siska begitu tertarik untuk menjadikan Fabian sebagai pacar flora, jika memang ia begitu tertarik kepada Fabian kenapa bukan dia saja yang berpacaran dengan Fabian.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Fabian muncul dengan seorang bayi laki-laki yang terlihat begitu nyaman ada di gendongan nya. Melihat itu flora langsung memutar bola mata malas.
"Terus gimana?" tanya Fabian begitu sampai di depan Flora.
"Apanya?" balas Flora dengan nada ketus.
"Ya ini." Fabian menunjuk bayi di gendongannya. Flora melirik sekilas, lalu memutar bola matanya dengan malas.
"Bukan urusan gue, lagian Lo ngapain bawa-bawa bayi ke sini, sih!" bentak flora tak dapat tertahankan lagi. Ia bersumpah setelah ayahnya Fabian lah orang yang paling menyebalkan di dunia ini.
"Lah, kan tadi gue udah bilang mak nya lahiran terus dia di titipin deh ke gue, " balas Fabian sewot membuat ke dua mata flora menatap tajam ke arahnya.
" Lo gak ngerti apa budek sih," tambahnya dengan santai. Sepertinya perkataan Fabian barusan mampu membangunkan singa yang sedang tertidur di dalam diri flora lihatlah wajah garang flora saat ini membuat Fabian hanya bisa tersenyum pasrah, dalam hati ia menyerahkan nyawanya pada yang maha kuasa.
" Oke gue khilaf,"
Plak!
Tamparan mulus mendarat begitu saja di wajah Fabian membuat wajah pria itu tertoleh ke samping. Fabian memejamkan ke dua matanya sejenak, lalu kembali ia buka dan tersenyum seolah tak terjadi apapun.
"Sabar to ndoro," ucap Fabian lembut yang langsung di balas tatapan tajam flora.
Sementara bayi yang ada di gendongannya hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran dua orang dewasa yang ada di hadapannya. Andai saja ia sudah bisa berbicara mungkin ia juga akan berkata kasar di hadapan ke dua manusia ini.
" Lo pergi sendiri bawa bayi Lo gue gak mau liat wajah Lo, lagi," ucap flora datar.
" Lo lupa ya ucapan nechan," Fabian tersenyum miring melihat flora yang tiba-tiba terdiam.
" Gue lagi bantuin Lo, gak perlu berterimakasih gue ikhlas kok," flora terdiam dalam hatinya ia memaki-maki pria yang ada di hadapannya ini.