Happy reading
and enjoy the story.
•
•
•
•
"Jangan sedih lagi, ayo kita pergi jalan-jalan,"
Raut sedih yang terpancar di wajah flora beberapa saat yang lalu, mendadak berubah ketika mendengar ucapan Fabian barusan. Gadis itu menatap datar Fabian di hadapannya yang justru terlihat bingung dengan tatapan flora.
" Lah kenapa?" tanya Fabian melihat wajah datar flora membuat Fabian mengernyit heran.
" Ide gue keren, kok," lanjut Fabian percaya diri.
" Bapak Lo, keren!"
" Fakta sih, matinya aja bunuh diri,"
Flora memutar bola matanya malas, membuat Fabian langsung terkekeh.
" Gue cuma gak mau Lo terus-terusan ada di sini. Kalo Lo di sini bakal lebih sedih lagi," ucapan Fabian barusan mampu membuat flora terdiam.
Ide Fabian cukup bagus, flora juga tidak ingin terus-terusan menangisi orang-orang jahat itu.
Lagi pula tidak ada gunanya ia berada di sana, pasti hanya Marsha yang akan di bangga-banggakan oleh Daniel dan flora hanya akan mendapatkan bagian diam dan mendengarkan.
" Yaudah, ayok," ucap flora pada akhirnya.
Wajah Fabian langsung berbinar.
" Tuh, kan. Ide Fabian selalu keren,"
" Biji mata Lo keren,"
" Makasih flora," flora menghela napas pelan, sepertinya ia harus lebih bersabar lagi, mengahadapi pria jamet yang ada di hadapannya ini.
•••
Langit biru perlahan berubah menjadi abu, seolah mengerti dengan perasaan gadis pendek yang tengah duduk manis di boncengan pria ber-jas hitam yang sedang mengemudi di atas motor Astrea itu.
Flora hanya diam, terpaku dengan pikirannya sendiri. Membiarkan motor astrea itu berjalan pelan membelah jalanan siang yang cukup sepi. Entah kemana arahnya flora sudah tak peduli.
" Jangan sakiti Marsha lagi..." kata itu terus terngiang-ngiang di dalam otak flora.
Tanpa sadar ia menghela napas lelah. Entah sudah berapa lama mereka menyembunyikan fakta menyakitkan ini.
Melihat Marsha bersama dengan zean saja sudah cukup membuat flora menggila dan sekarang ia harus menelan fakta bahwa sahabatnya itu tengah mengandung buah dari cintanya dengan zean.
Motor yang di kendarai oleh Fabian tiba-tiba saja berhenti di gang sempit.
Flora tersadar dari lamunannya kemudian mengernyit ketika menyadari bahwa motor yang sedari tadi ia tumpangi kini berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya flora seraya turun dari atas motor Fabian. Baju yang ia kenakan saat ini cukup membuat flora kesulitan untuk turun dari atas motor Fabian.
"Lo gak liat tuh?" Fabian menunjuk keramaian yang ada di depan mereka.
Flora mengikuti arah tunjuk Fabian. Matanya berhenti tepat di keramaian yang ada di depan, sepertinya itu acara pengajian.
" Trus?" tanya flora benar-benar tak paham.
"Kata Mak gue, kalo kita dalam perjalanan trus di depan ada pengajian, kita tuh harus dengerin. Supaya perjalanan kita baik-baik aja," jelaskan Fabian panjang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
Ficção AdolescenteGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
