df|31: masa lalu.

1.8K 261 150
                                        


Happy reading
and enjoy the story




“ tolong peluk tubuhku, di sini terlalu dingin”





Flora masih berdiri diam di tempat yang sama, tempat di mana Fabian mengakhiri semuanya. Kata-kata Fabian beberapa saat yang lalu, masih terngiang-ngiang di kepalanya. kata-kata itu nyata keluar dari mulut Fabian, namun entah kenapa hatinya menolak  mempercayainya.

Mata gadis itu memanas, rasa sesak itu kembali lagi, meskipun ia berusaha untuk menahannya namun rasanya semakin menyakitkan.

Isakan pelan akhirnya lolos dari bibirnya. Flora mengigit bibir bawahnya, berusaha untuk tetap kuat, namun rasa sakit itu tak juga mereda, malah semakin menjadi-jadi.

" Kenapa Lo gak mau dengerin penjelasan gue dulu—" bisiknya lirih nyaris tak terdengar.

Air mata mulai jatuh, tak peduli seberapa kuat ia menahannya.

" Kata-kata Lo nyakitin lebih dari apapun, fabian..."

Isakan pelan itu  terdengar begitu menyakitkan, air mata yang berusaha ia tahan kini mengalir deras tak lagi dapat di bendung. Ia takut kehilangan Fabian, ia takut dengan kemarahan Fabian, ia takut laki-laki itu membenci dirinya.

" Flora,"

Rasya tiba-tiba muncul entah dari mana. Flora terdiam sejenak, sebelum akhirnya memutar tubuhnya menghadap Rasya.

" Flo—"

Mata sembab, wajah lelah, terpancar jelas di sana membuat jantung Rasya mencelos.

" Cerita ke gue Flo," pinta Rasya dengan suara pelan.

Flora tak menjawab, malah air mata yang semakin mengalir deras.

" Flo—"

" Gue capek..." bisik flora pada akhirnya, suaranya terdengar parau.

" Hidup gue se sepele itu ya?  Gue gak ada artinya di dunia ini..." tak ada lagi kata-kata yang bisa flora ucapkan.

Jantung Rasya mencelos, dadanya terasa sesak melihat flora hancur.

" Gue pengen mati—"

Tanpa pikir panjang, Rasya langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tidak peduli dengan air mata yang akan membasahi bajunya, yang terpenting flora merasakan kehangatan  di dalam dekapannya.

" Jangan ngomong kayak gitu, gue gak suka," bisik laki-laki itu.

Flora mengigit bibir bawahnya, fakta bahwa sampai saat ini tak ada yang bisa membuat dirinya lebih baik kecuali Fabian.

" Lo berharga di hidup gue, sekalipun seluruh dunia ninggalin Lo, gue tetap ada,"

" Anjai, jangan sedih lah. Kan masih ada gue," kata-kata Fabian beberapa waktu yang lalu masih terngiang-ngiang di kepalanya.

Kenyataan bahwa kisah mereka telah berakhir, benar-benar menyakiti flora.

Flora terisak, bahunya bergetar hebat di pelukan Rasya.
Ia mengeluarkan seluruh sesak yang menumpuk di dadanya tanpa menahannya sedikitpun.

Rasya hanya terdiam, memberikan kehangatan yang mungkin tak pernah ia berikan pada siapapun, karena sejatinya itu hanya milik flora.

Namun ada  satu hal yang tidak flora sadari, yang mungkin akan membuat hubungannya semakin kacau. Dari kejauhan sepasang mata menatap mereka dalam diam.

Fabian hanya dapat menghela napas pelan, ia ingin berteriak begitu menyaksikan flora dalam pelukan Rasya, namun yang ia lakukan hanya diam, seolah suaranya tercekat di pangkal tenggorokannya.

DUNIA FLORATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang