Happy reading
and enjoy the story
•
•
•
•
Pagi ini, matahari bersinar lebih terik dari biasanya, menyinari lapangan SMA aksara yang mulai di penuhi oleh siswa-siswi yang bersiap untuk olahraga.
Kelas X IPA 3, Xl IPA 1 dan Xll IPA 2 berkumpul menjadi satu di lapangan, beberapa terlihat bersemangat, sedangkan yang lainnya lebih memilih berteduh menunggu giliran mereka.
Di bawah pohon, flora duduk bersandar, mencoba menikmati waktu yang tersisa sebelum giliran mereka. Namun ketenangannya terusik karena pertanyaan Olla yang tidak berhenti dari tadi.
" Ra, Lo sakit kan?" tanya Olla lagi, dengan suara jauh lebih cemas dari sebelumnya. Siapa yang tidak cemas, ketika melihat wajah pucat flora, namun gadis itu tampak baik-baik saja dengan semua ini.
Flora menghela napas pelan.
" Gue gak papa, la," jawab flora seadanya.
" Tapi Lo pucet,"
Flora berdecak sebelum akhirnya menatap Olla dengan tatapan kesal.
" Stop, bacot. Gue baik-baik aja," potong flora dengan cepat, bisa sampai magrib Olla terus bertanya kepadanya.
Mata flora tiba-tiba saja menangkap sosok Marsha dan zean yang tengah duduk berdua di bangku penonton. Ke duanya terlihat romantis di sana, seperti mengambil kesempatan di tengah kesempitan karena kebetulan jam olahraga mereka sama.
Flora hanya menatap diam, mencoba untuk menahan luka yang tak akan pernah bisa sembuh. Ia berani bersumpah bahwa perasaannya pada zean perlahan sudah pudar, tapi kenapa masih ada sedikit rasa sakit saat melihat pemandangan itu?
Tak ingin lebih sakit, flora buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun ketika ia mengalihkan pandangannya, matanya justru tak sengaja menangkap sosok lain, yang tak kalah membuat dadanya terasa sesak.
" Fabian..." gumam flora tanpa suara, matanya menatap kosong ke arah Fabian yang berdiri di tengah lapangan bersama seorang gadis yang tak di kenal flora, tapi cukup membuat hatinya cemburu melihat pemandangan itu.
•••
"Lo belum punya temen?"
Gadis itu mendongak, menatap Fabian yang jauh lebih tinggi darinya.
"Belum," jawabnya pelan seraya menundukkan kepala," Gak ada yang mau jadi temen main voli sama gue," lanjutnya, ada nada kecewa dalam suaranya, meski ia berusaha menyembunyikannya.
Fabian menyelipkan tangannya ke dalam saku celananya, menatapnya dengan senyum tipis, "Yaudah, sama gue aja,"
Gadis itu membuka mulutnya, sedikit terkejut, "Emang gapapa?"
Selama sekolah di SMA aksara tak ada orang yang mau berteman dengan dirinya, jangankan berteman sekedar menyapa saja mereka enggan, jadi wajar saja fiony alveria cukup terkejut mendengar ajakan Fabian.
Fabian tersenyum lebar, gadis di depannya ini tampak lucu. Dengan kacamata dan pipi chubby nya, fiony terlihat menggemaskan.
" Jangankan nemenin main voli, nemenin sepanjang hidup kamu aja aku mau," ucap Fabian dengan suara lembut, seakan memberi harapan yang lebih dalam dari sekedar tawaran main voli.
Gadis berkaca mata itu langsung menundukkan kepalanya, apa yang terjadi dengannya, oh ayolah itu hanya candaan, bukan suatu kata serius yang patut membuatnya salah tingkah.
" Ayo, main voli," Tangan Fabian terulur dengan lembut, menunggu fiony meraihnya. Awalnya fiony terlihat sangat ragu, namun akhirnya ia menerima uluran tangan Fabian, membiarkan Fabian membawanya ke tempat bermain voli.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
TienerfictieGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
