Happy reading
and enjoy the story
•
•
•
•
" Gimana, Do?"
Bagaikan api di siram bensin, semakin berkobar. Itulah yang di rasakan Aldo saat ini.
Aldo hanya melirik sekilas ke arah ashel yang datang menyusulnya setelah ia memilih pergi dari kantin dan bersembunyi di bawah tangga penghubung antara lantai satu dan lantai dua.
" Takut ya?"suara ashel terdengar lembut, namun senyuman sinisnya tak dapat di sembunyikan.
Aldo hanya menatapnya datar, sarat akan kemarahan.
Namun Ashel tak tinggal diam, tangannya naik menggenggam lengan Aldo tapi langsung di tepis kasar oleh laki-laki itu.
" Puas Lo?!" bentak Aldo, tak lagi bisa menahan amarahnya.
Ashel tersenyum miring, jemarinya bergerak perlahan di leher Aldo, membuat darah laki-laki itu semakin mendidih.
" Masih nanya? ya jelas..." Gadis itu menggantung ucapannya. Bibirnya mendekat pada Aldo, membuat deru napasnya terasa hangat di leher laki-laki itu.
" Sangat puas," bisiknya tepat di telinga Aldo.
Senyuman miring masih terukir jelas di wajahnya.
" Gue bahkan gak sabar liat Lo pake baju tahanan Aldo, semoga Lo membusuk di penjara, " lanjut ashel, ia tersenyum puas begitu melihat urat-urat leher laki-laki itu mengetat.
" Sial," Detik itu juga, tangan Aldo naik dan dengan cepat mencengkram leher Ashel.
" Lo pikir bisa ngelawan gue, ha?!"
Ashel meronta kesakitan, jemarinya mencengkram tangan Aldo, berusaha untuk melepaskan cengkraman Aldo.
" Dari dulu sampai sekarang, Lo gak akan pernah bisa lawan gue!"
" A-aldo, l-lepas," suara gadis itu putus-putus, ia mulai kehabisan napas.
Namun Aldo tak berniat untuk mengehentikan aksinya, ia semakin gencar mencengkram erat leher gadis itu, menikmati wajah ketakutan gadis itu.
" ALDO STOP!!!"
senyuman miring di wajah Aldo hilang seketika itu, cengkeramannya terlepas detik itu juga.
Ia menoleh dan mendapati flora yang berdiri di belakangnya. Laki-laki itu langsung terdiam.
Ashel tersenyum miring, seraya mengusap lehernya yang memerah.
" Semangat untuk kehancuran keluarga Lo," bisik ashel sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi.
Aldo berdiri diam di tempatnya, walaupun di hadapannya kini ada flora yang menatapnya dengan tatapan tajam.
" Apa yang terjadi antara Lo ama Fabian?" pertanyaan itu mampu membuat dada Aldo terasa sesak tanpa sadar kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Apa yang akan ia jawab? sungguh dirinya benar-benar bingung.
" Jawab gue do," suara flora terdengar bergetar.
Aldo masih terdiam, tak berani untuk menjawab, jujur saja ia lebih takut pada kemarahan flora dari pada bogeman dari Fabian.
" Lo jawab sekarang, atau gue sendiri yang bakal ungkap kasus ini sampai tuntas," Aldo memberanikan diri menatap adik kecilnya itu, dadanya terasa lebih sesak menatap air mata di wajah flora.
"Ra, gue-"
" Lo jahat," ucap flora memotong ucapan Aldo, air mata gadis itu terus menerus mengalir.
" Dengerin gue dulu, Ra," ujar Aldo, berusaha mencari celah maaf dari flora, namun sepertinya akan terasa sulit.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
Roman pour AdolescentsGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
