Gue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau.
Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati,"
Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chat =========
Fabian♥️: " Gue mau video call, tolong angkat."
(Telepon video tak terjawab) Ketuk untuk menelpon balik
Fabian♥️: "kali ini aja, Ra... Pliess..."
Flora: "Gue lagi males."
Fabian♥️: " Gue nggak mau cerai."
Flora: "keputusan gue udah bulat."
Fabian♥️: " Tolong pikirin lagi, Ra. Jangan buat keputusan di waktu emosi."
Fabian♥️: " Gue janji bakal berubah."
Fabian♥️: " Jangan buat gue benci sama diri gue sendiri"
Air mata Flora perlahan jatuh, membasahi layar ponsel yang tergenggam lemah di tangannya. Meskipun layar ponsel itu telah meredup sejak tadi, namun pesan terakhir dari Fabian masih tertera dengan jelas di sana.
Ia tahu, di seberang sana, Fabian sedang menunggu penuh harap. Pesan itu sudah terkirim hampir setengah jam yang lalu, namun Flora masih belum juga membalasnya. Bukan karena ia tak peduli, tapi hatinya terlalu lelah dengan semua ini, dengan semua hal yang berurusan dengan Fabian.
Dengan perasaan lelah, Flora membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dua hari sudah berlalu sejak terakhir kali Fabian tidur di sebelahnya. Kini, hanya bantal guling yang masih setia menemaninya. Pandangannya kosong menatap benda mati itu, berharap yang ia tatap adalah wajah suaminya. Perlahan, satu persatu kenangan dan tawa mereka dulu, bermunculan di dalam pikirannya, bagaikan burung-burung yang berterbangan kacau di sana.
Flora benar-benar tak menyangka, semuanya akan hancur secepat ini. Padahal dulu, mereka melawan semuanya demi bisa bersama. Tapi sekarang, untuk saling menggenggam pun, mereka sudah tak mampu.
" Assalamualaikum!!!" Teriakan dari luar rumah memecah lamunan Flora. Buru-buru ia menghapus air mata di wajahnya yang belum sempat mengering.
" Waalaikum salam. Iya, sebentar!" Gadis itu bangkit dari kasurnya, lalu berjalan menuju pintu.
" Flora, mangga di depan rumah gue udah berbuah. Katanya kemaren Lo pengen," ucap Mira begitu pintu terbuka.
Flora hanya menampilkan senyuman tipis, rasanya untuk sekedar menjawab pertanyaan Mira saja ia tak punya tenaga.
Mira menatapnya sebentar, lalu tangannya naik mengelus lembut lengan Flora.
" Gak usah, di pikirin banget, ya. Masalah di dalam keluarga itu... biasa,"
Flora mengangkat wajahnya, menatap Mira dengan wajah yang masih sembab.
" Gue gak sengaja ngeliat Fabian minggat dari rumah kemaren," lanjut Mira, seolah mengerti tatapan Flora.
Air mata Flora perlahan mengalir kembali. Sungguh sulit rasanya menahan segala sesak di dadanya.
" Gue gak kuat, kak..."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai ges. Aku baru aja publish cerita terbaru aku. Jangan lupa mampir yaa