"Sebelum baca jangan lupa putar playlist terbaik kalian"
Happy reading
and enjoy the story
•
•
•
•
Mau kemana kamu Aldo?" Aldo langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Daniel.
Saat ini Daniel sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Flora nelpon,"
Alis Daniel terangkat sebelah.
" Kenapa, flora?"
" Pacar flora mau bunuh diri,"
Daniel terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Aldo barusan. Beberapa hari ini mereka mencari keberadaan Fabian tapi hasilnya nihil dan sekarang ia mendapat kabar laki-laki itu akan bunuh diri?
" Papa, ikut."
Aldo menggeleng dengan cepat.
" Gue bisa sendiri,"
" Kalo saya tidak ikut, kamu tidak usah pergi,"
Aldo menghela napas berat, ia tahu berdebat dengan Daniel hanya akan membuang-buang waktu.
" Yaudah,"
Setengah jam perjalan berlalu begitu panjang. Mobil melaju membelah jalanan malam yang begitu sepi, membawa mereka menuju alamat yang di kirim Fabian ke ponsel milik flora.
" Flo, Lo yakin alamatnya di sini?" tanya Aldo sedikit ragu. Menatap gedung terbengkalai yang terlihat menyeramkan.
" Fabian yang ngasih alamat ini," suara flora terdengar lemah.
Tanpa pikir panjang mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam gedung terbengkalai itu. Bau debu dan lembab menyambut mereka begitu mereka melangkah masuk ke dalam gedung. Awalnya mereka tidak menemukan apapun hingga mata flora menangkap sosok Fabian di balkon lantai atas.
Laki-laki itu duduk di pinggir jendela. Tangan kanannya menggenggam erat pisau berlumuran darah, sedangkan dari tangan kirinya darah mengalir begitu deras.
Mata flora membulat dengan lebar, laki-laki itu begitu menikmati rasa sakit yang ia ciptakan sendiri.
Setelah percakapan terakhir mereka yang berakhir flora meninggalkan Fabian di pantai sendirian, sejak saat itu ia di hantui rasa bersalah.
" Fabian..." panggil flora sangat pelan.
Fabian tersentak, dengan cepat ia langsung menyembunyikan pisau yang ada di tangannya. Perlahan ia menoleh ke arah flora.
" Ra..." bisiknya hampir tak bersuara. Laki-laki itu tampak begitu menyedihkan. Wajah pucat, pakaian yang sudah kotor terpampang jelas di hadapan flora membuat hatinya semakin teriris.
Flora menghela napas berat.
" Lepasin yang di tangan Lo,"
suara flora tercekat di tenggorokannya, matanya berkaca-kaca menatap Fabian yang berdiri di hadapannya. Jantung flora mencelos, dadanya terasa sesak. Fabian tak seperti laki-laki yang ia kenal.
" Gue nunggu Lo dari semalam tapi kenapa baru dateng sekarang,"
Flora memejamkan ke dua matanya membuat air mata yang tertampung akhirnya jatuh. Rasanya ia ingin berteriak sekuat mungkin, ia ingin memeluk erat Fabian namun seolah tenaganya tak sanggup melakukan itu semua.
" Jangan nyiksa... gue gak suka..."
Belum sempat Fabian meraih tangan gadis itu, tatapannya tiba-tiba saja berubah, begitu melihat dua sosok laki-laki yang berdiri di ujung sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
Teen FictionGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
