Happy reading
and enjoy the story
•
•
•
•
" Kak, bawa donat gak?"
Baru saja melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu, Fabian sudah di sambut dengan pertanyaan dari adik kecilnya.
Fabian tersenyum tipis ke arah Freya. Seperti biasa, setiap sore gadis itu selalu duduk di kursi roda kesayangannya di teras rumah, mengamati dunia di sekitarnya.
" Besok kakak bawa ya," ucap Fabian, seraya berjongkok di hadapan Freya.
" Kakak tadi mau bawa tapi motor kakak lagi di bengkel, jadi gak bisa mampir dulu."
Freya mempautkan bibirnya sejenak, sebelum akhirnya tersenyum tipis.
" Gak papa kak, besok bawa ya," Fabian mengangguk pelan, tangannya naik mengusap pelan kepala gadis itu.
Hening menyelimuti mereka berdua, hanya terdengar suara riuh anak-anak yang bermain di atas tanah tak jauh dari pekarangan rumah mereka. Sebagian bermain bola, sebagian lagi sibuk bermain lompat tali.
" Jangan di lihatin gitu amat, fre," ujar Fabian membuat Freya tersadar dari lamunannya.
Gadis itu menatap ke arah Fabian yang juga sedang menatapnya.
" Aku cuma ngerasa sedih kak, di dunia yang cuma sekali ini kenapa aku harus kehilangan kaki aku,"
Fabian menghela napas pelan, tangannya naik membelai rambut Freya dengan lembut.
" Kamu gak kekurangan apapun, dek. Kamu sempurna di mata kakak,"
Bukannya merasa senang dengan ucapan Fabian barusan, Freya justru semakin sedih.
" Andai waktu itu aku gak ngejar papa," bisiknya, suaranya terdengar lirih. "Mungkin semua ini gak bakal terjadi,"
Fabian mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya, merasa tak berguna sebagai seorang kakak.
"Bukan karena papa, fre..."
Semuanya terasa begitu menyakitkan.
" Jangan ngomong gitu..." lirih Fabian, berusaha untuk tetap kuat di hadapan Freya.
Tapi Freya justru memasang senyum getir, membuat hati Fabian semakin mencelos.
" Pada akhirnya papa ninggalin kita, kak. Tapi kaki aku gak kembali,"
Fabian mempalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menahan air mata yang hampir lolos. Ia tahu tak ada kata yang cukup untuk membuat Freya kuat.
" ...Dan aku nyesel,"
Kata-kata itu menghantam dada Fabian, seperti pukulan berkali-kali. Ia menoleh menatap Freya dengan mata berkaca-kaca.
Fabian menggeleng pelan.
" ...jangan ngomong gitu," lirihnya terdengar semakin menyakitkan. Tapi air mata Freya semakin mengalir deras.
" Kak,"
" Jaga diri baik-baik ya. Aku cuma punya kakak di dunia, ini."
Fabian menggertakkan giginya, berusaha mati-matian menahan air mata yang hampir tumpah. Ucapan Freya barusan bagaikan duri yang menancap di hatinya. Tangannya terulur, menggenggam erat jemari gadis itu.
" Jangan ngomong kayak gitu, kakak gak pergi kemana-mana kok,"
"Kakak janji?" tanya Freya membuat Fabian terdiam. Fabian tahu, janji itu bukan sekedar janji biasa.
Pada akhirnya Fabian memaksa bibirnya tersenyum tipis.
" Janji,"
"Kamu lebih memilih orang lain, dari pada membela darah dagingmu sendiri,"
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
JugendliteraturGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
