Happy reading
and enjoy the story.
•
•
•
•
BRAK!
Pintu roof top tertutup sempurna. Tubuh laki-laki berseragam SMA itu luruh begitu saja, seakan kakinya sudah tak sanggup menopang berat tubuhnya. Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya di pintu roof top, membiarkan tubuhnya merosot perlahan.
Fabian terkekeh, meskipun buliran air mata terus mengalir di pipinya.
" Gila kata-kata Lo keren banget, bian..." kekeh Fabian.
Ia mendongak, memandangi langit yang mulai berubah mendung, seolah alam pun ikut bersedih bersamanya.
" Yor, Lo bener. Gak ada orang yang mau ama gue selain Lo..."
Dua tahun yang lalu...
" Aku mau putus," ujar fabian, seraya menatap gadis yang masih sibuk dengan kue stroberi miliknya.
Gadis itu berhenti menyuap, lalu menoleh, menatap Fabian dengan tatapan bingung.
" Yakin?" tanya Yori, seraya menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Fabian.
" Ya lagian cuek banget," ketus Fabian, memajukan bibirnya kesal.
" Denger ya, kamu kalo putus dari aku gak bakalan pacaran lagi,"
Fabian mengernyit.
" Dih, kenapa?"
Yori terkekeh geli, membuat Fabian semakin kesal.
" Gak ada orang yang suka sama kamu Fabian, cuma aku yang suka sama cowo kaya kamu,"
Air mata kembali mengalir deras membasahi wajah Fabian, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.
" Gimana kalo dia beneran pergi?" bisiknya pada hembusan angin.
Tak ada jawaban, tentu saja.
Ia menghembuskan napas lelah, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
" Bodoh banget sih, kenapa gue harus ngomong kayak gitu ke dia,"
Pria itu kembali menatap langit, memohon pada Tuhan.
" Cuma dia satu-satunya yang tersisa, tolong jangan gagalkan lagi..."
•••
"Cowok keren!"
Langkah kaki Fabian terhenti ketika mendengar suara familiar dari arah pos satpam. Laki-laki itu menoleh dan mendapati pria paruh baya berusia 30 tahun melambai ke arahnya.
" Mang Aran," gumam Fabian, hampir berbisik. Pada akhirnya laki-laki itu melangkah mendekati pos satpam.
" Lesu banget, kaya lagi kelilit pinjol,"
Fabian hanya tersenyum tipis sebelum menjatuhkan dirinya di kursi sebelah mang Aran.
Di tempat ini, setidaknya Fabian masih bisa tersenyum tipis. Meskipun celetukan mang Aran tak mampu untuk menyembuhkan luka terdalam di hatinya.
" Kenapa Lo? Tumben banget lesu?"
tanya mang Aran, meskipun ia tau Fabian tak akan menjawab pertanyaannya, namun setidaknya ia sudah berusaha.
Fabian menghela napas lelah untuk kesekian kalinya, sejak tadi ia berusaha melupakan kejadian hari ini, tapi semuanya terasa sia-sia saat tangannya tanpa sadar membuka ponselnya, dan di sana Fabian sudah di sambut dengan wallpaper foto flora. Rasa sakit itu kembali lagi, kata-kata flora terhadap dirinya beberapa saat yang lalu kembali menghantui pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
Ficção AdolescenteGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
