Happy reading
and enjoy the story.
•
•
•
•
"OLLAN UANG JAJAN GUE!" suara lantang gadis batak itu memecah keramaian kantin yang tengah padat oleh siswa-siswi yang kelaparan.
" Ee, buset budeg telinga gue dengernya," kesal Rasya yang tengah duduk di kursi yang berada di sebelah tempat Olla berdiri saat ini.
" Terserah gue dong, mulut-mulut gue, kok situ yang ngatur," balas Olla sewot membuat Rasya pada akhirnya hanya bisa menghela napas pelan.
Mata Rasya kemudian melirik flora yang berdiri canggung di antara oniel dan Olla. Wajah gadis itu terlihat begitu kurang nyaman berada di sini, apalagi sejak tadi, tatapan zean tak lepas memandangnya.
" Nih," Ollan merogoh selembar uang kertas berwarna biru dari dalam dompetnya.
" Gini dong, baik dikit jadi Abang, kan makin sayang gue," ujar Olla seraya tersenyum lebar menatap saudara laki-laki nya itu.
Ollan memutar bola matanya malas.
" Pala Lo," ketus Ollan.
Saat ini, di meja panjang itu, Olla, flora, oniel, Ollan, Rasya, Aldo, dan zean duduk menjadi satu.
Sebenarnya flora sudah menolak ajakan Olla untuk bergabung, namun karena kantin tengah padat dan mereka tidak menemukan meja kosong, ia akhirnya mau untuk bergabung.
Flora mencoba untuk terlihat
biasa saja meskipun ia menyadari tatapan zean yang tak lepas menatapnya sedari tadi. Kali ini ia bertekad bahwa ia tak akan terlihat lemah lagi.
Tiba-tiba saja sebuah suara lembut terdengar di telinga flora. Gadis itu menegakkan kepalanya yang sebelumnya tertunduk untuk menghindari kontak mata dengan zean.
"Lagi makan apa?"
Semua pasang mata langsung tertuju pada Marsha yang baru saja datang. Ke dua tangannya langsung melingkar manja di leher zean, membuat Olla langsung menatapnya dengan tatapan jijik.
Zean tampak terkejut dengan kedatangan Marsha. Ia melirik ke arah flora, namun flora langsung buru-buru membuang pandangannya ke arah lain.
"Ubur-ubur ikan lele, nenek lampir dateng obrolan tammat lee, Olla nih bos tampleng dong," celetuk Olla tiba-tiba dengan kesal, membuat oniel terkekeh geli.
" Diem," bisik flora, mencoba untuk meredam amarah Olla. Meskipun masih sedikit kesal, Olla pun pada akhirnya hanya bisa diam, seraya menatap tajam ke arah wanita yang ada di hadapannya.
Tatapan Marsha kemudian tertuju pada ke tiga gadis yang duduk berhadapan dengannya.
" Kalian ngapain di sini?" sinis marsha seraya mengambil tempat duduk di sebelah Zean. Tangannya dengan manja, naik menggandeng lengan pria itu.
" Emang kantin ini punya bapak Lo?" sahut Olla tersulut emosi.
" Ya biasanya kalian gak pernah di sini," cibir Marsha. Tatapannya kini menatap tajam ke arah flora.
"Jangan caper deh,"
Flora hanya bisa menghela napas pelan, ia terlalu malas untuk berdebat dengan Marsha.
" Sha, jangan mancing keributan," tegur zean dengan nada dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA FLORA
Teen FictionGue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotin...
