13

257 30 4
                                        

Malam itu, mereka sepakat untuk beristirahat di kamar masing-masing, mencoba melupakan sejenak kekacauan tentang jaket misterius yang siang tadi mereka temukan.

Kamar 03

"Leo, gw pinjem laptop lo bentar, ya," kata zayyan sambil berjalan mendekati meja Leo, tempat laptop itu. Berada.

Leo yang sedang tiduran hanya melirik sekilas. "Emang laptop lo kemana, bang?"

"Di pinjem sama wain," jawab zayyan santai sambil menatap Leo.

"Kenapa lo nggak ambil balik aja, Bang?" Tanya leo sambil terus tiduran, suaranya sengaja di buat datar.

"Mungkin wainya masih pakek. Jadi gw ambilnya nanti aja," jawab zayyan ngasal.

Leo memicingkan mata, masih tetap dalam posisi malas di kasur. "Bang zayyan, perasaan lo dari tadi jawbanya muter muter. Ini jadi minjem apa nggak, sih?".

"Ya jadi lah, makanya gw izin sama lo tadi. Dan ya, lo nya aja yang pertanyaannya muter muter". Sahut zayyan mulai kesal.

"Becanda Bang, pinjem aja, seminggu pun gw kasih. Tapi kalem Bang jangan ngedumel mulu," balas Leo sambil menguap lebar.

Zayyan langsung mengambil laptop itu dari meja Leo sambil berdecak. "Dasar ya lo ,anak manusia."

Leo tertawa kecil, masih dalam posisi tiduran. "Santai dong bang. Tapi gw tau... lo pinjem laptop gw gara gara males ngambil laptop lo dari wain. Iya nggak?"

Zayyan terdiam sejenak. "Tau aja lo."

Dari arah pintu, Beomsoo muncul sambil membawa botol minum. "Ada apaan nih? Pada ngomongin apaan?"

"Bang zayyan, ngeluarin jurus malesnya," jawab leo sambil menyeringai, tanpa mengubah posisinya.

Beomsoo meletakkan botol di meja. "Klasik. Tapi jujur, yan, gue penasaran deh. Lo tuh beneran nggak pernah cerita sama temen-temen yang lain soal siapa lo, ya?".

Zayyan langsung menghentikan kegiatannya mengetiknya di laptop Leo. Dia menghela nafas pelan.
"Nggak, menurut gw nggak penting".

Leo menoleh setengah malas, tapi kali ini eksperesinya serius. 

Zayyan menatap layar laptop dengan ekspresi datar, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan—rasa lelah bercampur enggan. Beomsoo, yang kini duduk di kursi dekat meja, menatap Zayyan dengan alis terangkat.

"Lo nggak ngerasa itu penting?" ulang Beomsoo pelan, tapi nadanya terdengar penuh makna. "Kita udah temenan cukup lama, Yan. Lo nggak pernah kepikiran buat cerita sedikit aja? Gue rasa kita semua bakal nerima lo apa adanya."

Leo, yang biasanya penuh candaan, kini duduk bersila di kasurnya, ikut mengamati Zayyan dengan tatapan serius. "Iya, Bang. Gue ngerti lo punya alasan buat nggak cerita. Tapi... kalau lo terus-terusan nutupin sesuatu, bukannya makin berat buat lo sendiri?"

Zayyan menutup laptop dengan perlahan, meletakkannya di meja. Dia mengusap wajahnya, mencoba menyusun kata-kata. "Bukan masalah gue nggak percaya sama kalian," ucapnya akhirnya. "Gue cuma... nggak mau kalian ngelihat gue beda setelah tahu siapa gue sebenarnya."

Ruangan itu mendadak hening. Hanya suara kipas angin yang terdengar samar.

Beomsoo mendekat, menepuk bahu Zayyan pelan. "Lo tau, kan? Kita temen lo, Yan. Mau lo siapa, mau latar belakang lo kayak gimana, itu nggak bakal ngubah apa-apa."

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang