Hari pertama mereka kembali ke sekolah terasa begitu berat. Langit pagi itu masih mendung, seakan belum sepenuhnya melepaskan duka. Zayyan melangkah pelan menuju kelasnya, pikirannya masih dipenuhi kenangan tentang Beomsoo. Begitu dia masuk ke kelas, suasana terasa berbeda. Teman-teman sekelasnya memandangnya dengan tatapan simpati, tetapi tidak ada yang berani mendekat atau berbicara.
Guru mereka, seorang pria paruh baya dengan wajah penuh empati, berdiri di depan kelas. Sebelum memulai pelajaran, dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Anak-anak, sebelum kita mulai hari ini, saya ingin menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kehilangan teman kalian, Beomsoo. Dia adalah anak yang baik, dan saya tahu banyak dari kalian yang merasa kehilangan. Jika kalian butuh waktu atau seseorang untuk bicara, pintu saya selalu terbuka."
Zayyan hanya mengangguk kecil, berusaha menahan emosinya. Dia tahu kata-kata gurunya tulus, tetapi rasa sakit itu masih terlalu nyata untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara itu, di kelas lain, Gyumin duduk di bangkunya dengan kepala tertunduk. Guru mereka juga menyampaikan hal serupa, mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesedihan ini. Namun, bagi Gyumin, kata-kata itu hanya terasa seperti formalitas. Yang dia inginkan hanyalah jawaban-jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Beomsoo.
Saat jam istirahat tiba, mereka semua berkumpul di taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Tempat itu biasanya dipenuhi tawa dan canda, tetapi hari ini hanya ada keheningan.
Zayyan duduk di salah satu bangku, memandang ke arah pohon besar yang menjadi saksi banyak kenangan mereka. Leo dan Sing duduk di dekatnya, sementara Gyumin berdiri tak jauh, menatap kosong ke tanah. Hyunsik dan wain datang belakangan, membawa sebotol air mineral yang dia letakkan di meja.
Tidak ada yang berbicara. Keheningan itu begitu tebal, seperti dinding yang memisahkan mereka. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, merasakan kehilangan yang sama namun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Setelah beberapa saat, Sing akhirnya memecah keheningan. "Kalian tahu," katanya dengan suara pelan tetapi penuh semangat, "Beomsoo pasti nggak mau lihat kita kayak gini. Dia selalu bilang kita harus terus semangat, kan?"
Semua menoleh ke arahnya. Sing tersenyum kecil, meskipun matanya masih terlihat merah. "Gue tahu ini berat. Tapi kita nggak bisa terus-terusan sedih. Kalau Beomsoo ada di sini, dia pasti bakal ngomel-ngomel ngeliat kita diem kayak gini."
Leo tertawa kecil, meskipun suaranya terdengar getir. "Iya, dia pasti bakal bilang, 'Heh, kalian ini ngapain? Kita Hidup bukan buat sedih sedih, semangat dong!'"
Gyumin menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Lo bener, Sing. Kita harus bangkit. Tapi... gimana caranya?"
Zayyan, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita nggak bisa biarin kematian Beomsoo jadi misteri. Kita harus tahu siapa yang ngelakuin ini."
Hyunsik mengangguk setuju. "Tapi kita harus hati-hati. Ini bukan sesuatu yang bisa kita selesaiin dengan gegabah."
"Setuju," tambah Sing. "Kita mulai sepulang sekolah nanti. Kita kumpul lagi di tempat biasa, dan kita bikin rencana."
Mereka semua saling berpandangan, dan untuk pertama kalinya sejak kematian Beomsoo, ada semangat baru yang mulai tumbuh di antara mereka.
"Beomsoo nggak akan sia-sia," kata Leo dengan suara tegas.
"Dia nggak akan sia-sia," ulang Zayyan, suaranya penuh tekad.
Dengan itu, mereka sepakat untuk memulai perjalanan mereka mencari kebenaran. Meskipun mereka tahu jalan di depan penuh bahaya, mereka siap menghadapi apa pun demi sahabat mereka.
Setelah Sekolah
Sepulang sekolah, mereka berkumpul di tempat biasa—sebuah taman kecil di belakang gedung sekolah yang jarang dilewati orang. Langit masih mendung, seakan-akan ikut merasakan suasana hati mereka yang masih berat.
"Kita mulai dari kamar Beomsoo," kata Hyunsik. "Mungkin ada sesuatu di sana yang bisa kasih kita petunjuk."
Mereka semua mengangguk. Gyumin, yang paling dekat dengan Beomsoo, terlihat ragu sejenak, tapi akhirnya setuju.
Kamar Beomsoo
Kamar Beomsoo masih dalam keadaan yang sama seperti terakhir kali mereka melihatnya. Sepi. Dingin. Seolah pemiliknya bisa saja kembali kapan saja. Tapi mereka tahu itu tidak akan terjadi.
Mereka berpencar, mencari sesuatu—apa pun—yang bisa memberi mereka petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Leo dan Sing membongkar laci meja belajar. Gyumin meraba-raba lemari pakaian. Zayyan memeriksa rak buku dengan hati-hati. Hyunsik berdiri di sudut ruangan, mengamati dengan pandangan tajam.
Sementara itu, Wain berjongkok di samping kasur. Tangannya menyapu lantai, mencari sesuatu yang tersembunyi. Sampai jari-jarinya menyentuh sesuatu.
Sebuah gantungan kunci hitam dengan inisial ‘L’ terukir di permukaannya.
Wain mengangkatnya, menatap benda itu dengan dahi mengernyit.
“Guys, gue nemu sesuatu,” katanya, suaranya agak pelan tapi cukup untuk menarik perhatian mereka.
Satu per satu mereka mendekat, mengelilingi Wain yang masih jongkok. Mereka semua menatap gantungan kunci itu dengan ekspresi yang berubah drastis begitu menyadari sesuatu.
Mereka langsung tahu siapa pemiliknya.
Hampir bersamaan, mereka semua menoleh ke arah Lex.
Tapi Lex tidak sadar. Dia masih sibuk meriksa laci meja di pojok ruangan, dia tidak menyadari kalau semua mata kini tertuju padanya.
Gyumin akhirnya memanggilnya.
“Lex.”
Lex menoleh. “Hm?”
Gantungan kunci itu diangkat sedikit lebih tinggi.
“Ini punya lo, kan?”
Lex mengerutkan kening, baru menyadari benda yang mereka pegang. Begitu matanya menangkap inisial di permukaannya, dia otomatis mengangguk.
"Iya. Lo nemu di mana?"
Wain, yang masih menggenggam gantungan kunci itu, menatap Lex dengan ekspresi sulit ditebak.
“Di bawah kasurnya Beomsoo.”
Ruangan langsung hening.
Tatapan mereka ke Lex berubah.
Bukan hanya sekadar menatap biasa. Tapi menatap dengan curiga.
Lex bisa merasakan itu. Bisa membaca apa yang sedang ada di pikiran mereka.
Wajahnya mengeras. “Jangan bilang… kalian curiga sama gue?”
Tak ada yang langsung menjawab. Tapi keheningan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Dan dalam hitungan detik—ketegangan yang selama ini mereka tahan akhirnya meledak.
Yuhuuuu author back
Author minta maaf updatenya telat, author akhir akhir ini kurang enak badan jadi baru updatenya sekarang .
Tapi sebagai permintaan maaf author bakalan double update oke.
Author juga minta maaf chapter Kali ini juga sedikit.
Dan yah cerita ini bentar lagi mungkin bakalan tamat ya tinggal menunggu bulan aja.
Oke deh see you next chatper guys and happy reading
Daaaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Misterio / SuspensoHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
