Sebelumnya
Tiba-tiba suara tiit... tiiit... pelan terdengar dari salah satu pojok komputer. Tidak terlalu nyaring, tapi cukup membuat dongbin langsung menengok.
Dia berdiri cepat dan langsung mengetik sesuatu, matanya fokus ke salah satu layar, "sial... ada pegawai yang mau masuk ruangan manager."
Lex langsung nyahut, "Dia tau soal ini?"
"Enggak. Makanya kalian harus keluar dulu," kata dongbin sambil buru-buru menutup film dan mengklik shortcut untuk menutup pintu rahasia dari dalam.
Awalnya lex dan wain masih berdiri di tempat.
"Cepetan dong!" Dongbin berbisik panik sambil menarik tangan mereka berdua.
Lex nyengir iseng, "santai napa ah. Belum kiamat juga."
Wain, yang di tarik agak kencang, hampir tersandung kursi. "Aduh! Woy! Pelan pelan dong, kaki gue bukan roda!"
Dongbin ngedumel sedikit sambil narik mereka keluar lewat pintu rahasia yang pelan pelan ketutup lagi seperti tidak pernah ada pintu di situ.
Beberapa detik kemudian, pintu utama ruangan manager terbuka. Seorang pagawai– cowok muda berkemeja hitam dan apron cafe– masuk sambil gugup.
"Maaf, bos. Saya mau izin pulang lebih awal. Tadi tiba tiba dapet kabar dari rumah sakit, adik saya sakit..."
Dongbin langsung memasang senyum profesional. "Oh, iya, nggak apa-apa. Cepet pulang, semoga adiknya cepet sembuh, ya."
Begitu pegawai itu keluar, dongbin langsung menoleh ke lex dan wain yang masih berdiri di dekat rak.
"Karena kalian udah ketahuan ada di ruangan manager dan kayaknya pagawai itu ngeliat sepintas, kalian harus pura-pura jadi karyawan."
"Hah??" Wain mengaga.
"Gue?" Lex melirik ke apron tergantung
Di gantungan. "Gue nggak bisa bikin kopi!"
"Cuma satu hari! Gantiin dia aja sampe jam tutup!" Dongbin melempar dua apron ke mereka berdua.
Wain melihat apron itu seperti melihat bom waktu. "Gue beneran harus pake ini? Gue bahkan nggak bisa bedain cappucino sama kopi susu!"
Lex tertawa dengan cukup keras. "Sama kita. Gue kira americano itu merek mobil tau."
"Kalo sampe pelanggan protes karena kopi gue nggak enak, itu salah lu ya, lex."
"Tenang, kita pura-pura jadi Aesthetic barista. Modal gaya doang cukup kok."
Lex dan wain akhirnya keluar dari ruangan manager sambil memakai apron warna coklat tua khas cafe. Interior cafe yang Aesthetic dengan Lampu-lampu hangat, meja kayu, dan tanaman di setiap sudutnya membuat suasana semakin tenang.
Beberapa pelanggana melirik ke arah mereka waktu mereka berdiri canggung di belakang barista bar.
"Lex..." bisik wain pelan sambil menahan tawa. "Kok gue ngerasa kayak lagi ngecosplay barista tiktok ya."
Lex kemudian nyengir. "Yang penting gaya, nih liat." Dia mencoba mengambil gelas, tapi malah menyenggol tumpukan sedotan dan hampir menjatuhkan semuanya.
"Eh eh eh! Lo mau bikin gue langsung dipecat ya, baru aja satu hari kerja." Wain menahan gelas itu di detik terakhir.
Salah satu pegawai senior, cewek berambut pendek, lewat dan melihat mereka. "Kalian dua orang baru?"
Lex cepat-cepat mengangguk. "Iya, part-time dadakan."
Cewek itu tersenyum, "Oke, kalian tinggal layanan meja nomor 3 dan 5 aja ya. Yang penting jangan bikin kopi. Itu tugas aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Misterio / SuspensoHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
