Di kantin sekolah, mereka duduk di meja yang biasa mereka tempati. Suasananya masih agak canggung, tapi setidaknya nggak setegang tadi pagi. Lex tetap diam, fokus ke makanannya, sementara yang lain berusaha ngobrol seperti biasa.
Zayyan, yang nggak betah sama suasana begini, akhirnya membuka percakapan. "Makanannya lumayan enak hari ini, ya?"
Sing mengangkat bahu. "Biasa aja sih, tapi masih bisa dimakan."
Leo menyuap makanannya, lalu menatap Lex sekilas sebelum berbisik ke Gyumin, "Gimana caranya bikin Lex nggak bete lagi?"
Gyumin menghela napas. "Ya jelas harus ada yang ngajak dia ngobrol duluan."
Wain yang duduk di samping mereka ikut menyahut, "Kalau pada bisik-bisik terus, makin keliatan canggung, tahu."
Zayyan melirik Lex, lalu akhirnya coba ngajak ngomong, "Lex, tadi pagi kan lu yang masak sendiri, Lu bangun jam berapa?"
Lex berhenti makan sebentar, lalu menjawab tanpa melihat Zayyan, "Jam lima."
Jawabannya singkat.
Leo dan Sing saling pandang, lalu Leo berdeham pelan. "Ehh... lu nggak capek?"
Lex akhirnya menatap mereka. "Biasa aja. Lagian kalian juga harus makan, kan?"
Mereka semua jadi makin merasa nggak enak. Wain yang dari tadi diam akhirnya angkat suara, "Tapi lu harusnya nggak usah masak sendiri. Kita bisa bantu."
Lex menghela napas pelan, tapi nggak marah. "Udah terlanjur. Lagian bukan masalah besar."
Zayyan menggaruk kepalanya, lalu menoleh ke teman-temannya. "Pokoknya nanti malam kita gantian yang masak."
Lex nggak komentar lagi, cuma melanjutkan makannya. Sementara yang lain, meski masih sedikit canggung, mulai ngobrol lebih santai. Setidaknya suasana nggak sedingin tadi.
"Lex..." Dia berhenti sebentar, memastikan Lex mendengar. "Lo sibuk nggak habis ini?"
Lex mengangkat alis sedikit. "Kenapa?"
Wain menggaruk belakang kepalanya, sedikit canggung. "Kita... mau ngomong sesuatu."
Lex terdiam sebentar, lalu meletakkan sendoknya. "Oke," katanya singkat. "Habis makan aja."
Mereka mengangguk pelan, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya menyelesaikan semua ini.
Setelah Lex selesai makan, dia mengambil nampannya dan berjalan menuju tempat pengembalian nampan. Yang lain saling pandang lagi, memastikan mereka tetap pada rencana.
Zayyan, yang sejak tadi berusaha mencairkan suasana, bangkit lebih dulu dan mengikuti Lex ke tempat pengembalian nampan. "Lex, lo udah kenyang?" tanyanya, mencoba terdengar santai.
Lex hanya mengangguk sambil menaruh nampanya. "Hmm."
Yang lain mulai ikut berdiri dan berjalan mendekat. Wain, Sing, Leo, Gyumin, berdiri agak canggung di belakang Zayyan, sementara Hyunsik menyusul belakangan.
Begitu Lex selesai, dia menatap teman-temanya dengan ekspresi datar. "Jadi, mau ngomong apa?"
Wain menatap Sing, berharap dia bisa mulai duluan, tapi Sing malah mengalihkan pandangannya ke Gyumin. Gyumin juga nggak mau ambil inisiatif, jadi akhirnya Zayyan yang maju lagi.
"Kita semua tahu tadi malam agak... berantakan," Zayyan mulai bicara, nada suaranya lebih serius. "Dan kita nggak enak sama lo, Lex."
Lex tetap diam, ekspresinya nggak banyak berubah.
Sing akhirnya buka suara juga. "Ya, kita cuma mau bilang... maaf. Lo nggak salah, tapi kita tetap bikin suasana jadi aneh buat lo."
Gyumin mengangguk pelan. "Harusnya kita lebih percaya sama lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
