Hyunsik menatap wajah teman-temannya satu per satu. Wajah-wajah mereka menunjukkan berbagai ekspresi—ada yang cemas, bingung, bahkan ketakutan. Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang mereka miliki bersama: rasa khawatir.
“Aku nggak ngerti kenapa Beomsoo nggak cerita lebih detail soal itu,” ujar Hyunsik, suaranya terdengar serak. “Tapi waktu dia bilang ada yang ngikutin dia... gue sempet mikir, mungkin dia cuma lagi capek atau halu.”
Zayyan, yang duduk di sudut ruangan, mengangkat wajahnya. “Tapi kalau dia serius? Kalau dia emang ngerasa ada yang ngawasin dia, kenapa kita nggak tanggapin itu lebih serius?”
Leo mengangguk setuju. “Bisa jadi kita semua terlalu sibuk sama urusan masing-masing. Kita nggak lihat kalau dia sebenarnya butuh bantuan.”
Gyumin, yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara. “Kalau emang ada yang ngikutin Beomsoo, berarti ada kemungkinan itu ada hubungannya sama apa yang terjadi sekarang, kan?”
Ruangan itu tiba-tiba terasa semakin sempit. Suasana menjadi mencekam.
Hyunsik menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya. “Gue juga kepikiran begitu. Tapi masalahnya, kita nggak punya bukti apa-apa. Kita cuma punya kata-kata Beomsoo yang bilang ada yang ngikutin dia.”
Lex, yang duduk di sebelah Hyunsik, tiba-tiba berdiri. “Tapi kita bisa cari tahu, kan? Kalau Beomsoo pernah bilang sesuatu yang mencurigakan, pasti ada petunjuk yang dia tinggalin. Kita cuma perlu cari di tempat yang tepat.”
“Tempat yang tepat?” tanya Sing, bingung. “Maksud lo apa?”
Lex menghela napas. “Gue nggak tahu pasti, tapi coba pikir. Beomsoo itu orang yang cukup teliti. Kalau dia ngerasa ada yang ngikutin dia, dia pasti nyimpen sesuatu—catatan, pesan, apa pun—yang bisa kasih kita petunjuk.”
Semua terdiam, mencoba mencerna kata-kata Lex.
Zayyan memecah keheningan. “Jadi... lo mau kita ngecek barang-barangnya?”
“Bukan cuma barang-barangnya,” jawab Lex cepat. “Tapi juga tempat-tempat yang dia sering datengin. Mungkin ada sesuatu yang dia sembunyiin di sana.”
Hyunsik mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih penuh keraguan. “Kalau gitu, kita mulai dari kamarnya. Kalau ada sesuatu yang dia sembunyiin, kemungkinan besar itu ada di sana.”
Leo tiba-tiba angkat tangan. “Tapi tunggu. Kalau kita pergi ke kamarnya sekarang, gimana kalau ada yang curiga? Maksud gue, situasi lagi kayak gini, kita malah sibuk ngecek barang-barangnya?”
“Gue setuju,” tambah Sing. “Itu nggak sopan. Kita harus cari cara lain.”
Gyumin mengerutkan kening, berpikir keras. “Kalau nggak salah, Beomsoo pernah bilang dia suka nyimpen buku catatan kecil di laci meja belajarnya. Mungkin kita bisa mulai dari situ?”
Hyunsik mengangguk lagi, kali ini dengan lebih yakin. “Oke, kita coba cari buku catatan itu dulu. Kalau kita nemu sesuatu, baru kita putusin langkah selanjutnya.”
Lex tersenyum tipis. “Kalau gitu, kita nggak boleh buang waktu lagi. Kita harus gerak sekarang.”
Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, pintu ruangan tempat Beomsoo diperiksa terbuka, dan seorang dokter keluar.
Semua mata langsung tertuju pada dokter tersebut. Mereka berdiri serempak, menunggu dengan cemas kabar terbaru.
"Gimana keadaan Beomsoo, Dok?” tanya Hyunsik, mencoba menahan getar di suaranya.
Dokter itu menarik napas panjang sebelum menjawab. “Dia stabil sekarang, tapi kondisinya masih lemah. Kami menduga dia mengalami serangan panik yang cukup parah, ditambah dengan luka ringan yang kami temukan di lengannya. Namun, dia akan baik-baik saja dengan istirahat yang cukup.”
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
