31

225 30 16
                                        

Asrama - Sore Hari

Setelah dokter mengizinkan Zayyan pulang dari rumah sakit, dia langsung kembali ke asrama. Saat dia sampai, suasana di sana masih sepi-mungkin teman-temannya belum pulang. Tanpa berpikir panjang, Zayyan langsung menjatuhkan diri di sofa, merasa lelah setelah seharian di rumah sakit.

Dia menghela napas panjang, tangannya mengusap wajahnya yang terasa panas. Semua kejadian hari ini masih berputar di kepalanya. Serangan asma, kebohongan Wain untuk melindunginya, dan yang paling mengganggu-pesan misterius itu.

Dia menatap ponselnya di meja. Tangannya ragu-ragu sebelum akhirnya mengambilnya. Layar masih menampilkan chat terakhirnya dengan nomor tak dikenal itu.

Lalu, ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Nomor yang sama.

> "You're safe for now. Don't panic."
("Untuk saat ini, kamu aman. Jangan panik.")

Zayyan mengernyit.

Dia buru-buru mengetik balasan.

"Who are you? What do you mean?"

Dikirim.

Detik demi detik berlalu. Tidak ada balasan.

Zayyan menatap layar dengan frustrasi. Jadi... orang ini bukan mengancamnya? Tapi kalau begitu, kenapa cara mereka menghubunginya terasa begitu misterius?

Lalu, ponselnya bergetar lagi.

> "I can't tell you who I am yet. But trust me, I'm on your side."
("Aku belum bisa memberitahumu siapa aku. Tapi percayalah, aku ada di pihakmu.")

Jantung Zayyan berdegup lebih kencang.

Dia membaca ulang pesan itu berulang kali, mencoba mencari makna tersembunyi.

Seseorang mengawasinya. Seseorang tahu sesuatu. Tapi yang lebih aneh lagi-orang ini ingin melindunginya.

Tapi dari apa? Atau siapa?

Langit mulai berubah warna menjadi jingga ketika teman-temannya berkumpul di depan gerbang. Sekolah sudah hampir sepi, hanya menyisakan mereka yang masih menunggu.

Wain berdiri agak di belakang, matanya terpaku pada layar ponselnya. Dia sudah beberapa kali mengecek chat dengan Zayyan, tapi tetap tidak ada pesan masuk.

Dia menggigit bibirnya.

"Lo kenapa diem aja?" tanya Leo, menepuk bahunya.

Wain mengangkat wajahnya, lalu menggeleng. "Nggak, cuma capek aja."

Gyumin, yang sedari tadi memperhatikan, menyipitkan matanya. "Lo yakin? Dari tadi lo megang HP terus."

Wain tersenyum kecil, mencoba mengabaikan perasaan gelisahnya. "Nggak apa-apa, serius."

Tapi Gyumin tetap menatapnya dengan curiga.

Saat mereka bersiap untuk jalan pulang, tiba-tiba Lex bersuara, "Kalian duluan aja. Gue ada urusan sebentar."

Yang lain menoleh ke arahnya.

"Urusan apa?" tanya Leo penasaran.

Lex hanya tersenyum kecil. "Ada sesuatu yang harus gue cek. Nggak lama kok."

Mereka saling berpandangan, tapi akhirnya mengangguk. "Oke, hati-hati," kata Sing sebelum mereka mulai berjalan meninggalkan gerbang sekolah.

Setelah mereka pergi, Lex mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dengan cepat sebelum memasukkannya kembali ke saku. Dia lalu berbalik arah, berjalan menuju tempat lain-bukan ke asrama.






VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang