32

232 30 21
                                        


Tiba-tiba, suara pintu utama terbuka.

Mereka semua menoleh hampir bersamaan.

Seseorang masuk–dengan hoodie yang masih menutup kepalanya, celana pendek, dan sepatu lari yang kotor oleh debu.

Lex.

Dia berjalan santai seolah tidak ada yang aneh, sambil mengelap keringat dari lehernya menggunakan lengan bajunya. 

"Pagi," ucapnya singkat.

Leo langsung berdiri, "lex?! Dari mana aja lo? Kita kira lo hilang!"

"Gue pergi joging," jawab lex singkat. "Bangun tadi subuh, nggak bisa tidur."

"Lari pagi?" Gyumin menyipitkan mata, "Tapi lo nggak pernah lari pagi sebelumnya..."

"Iseng aja," jawab lex sambil berjalan pelan ke arah dapur.

Wain memperhatikan gerak-geriknya, tajam. Zayyan juga diam, tapi tatapanya mengikuti setiap langkah lex.

"Lo nggak bilang ke siapa-siapa dulu?" Tanya leo lagi, nadanya setengah lega setengah protes.

Lex membuka kulkas, ia mengambil air minum, lalu meneguknya sebelum menjawab, "Gue pikir kalian semua masih tidur. Jadi gue nggak mau ganggu kalian."

Sing ikut nimbrung, "Tapi kenapa lo nggak bawa hp?"

Lex mengangkat bahu. "Lupa."

Hening beberapa detik.

Zayyan akhirnya bicara, pelan, "lo lari sampai mana?"

Lex menatap sejenak, lalu menjawab, "muter-muter aja... sekitaran taman belakang sama lapangan kecil di dekat halte."

Gyumin langsung nyeletuk, "Wah, pantesan bau keringat banget."

Mereka tertawa kecil, tapi wain nggak ikut ketawa.

Dia tetap memandangi lex, ,seolah tahu ada sesuatu yang di sembunyikan.

Lex menutup botol minumnya, "Gue mandi dulu ya."
Ucapnya sambil melangkah menuju kamar mandi. " oh ya kalian juga cepet siap-siap ya, nanti kita telat."

Suasana kembali hening, tapi kali ini bukan karena kekhawatiran—melainkan tanda tanya yang mulai menggantung di kepala masing-masing.

Gyumin pelan-pelan berbisik ke Wain, “Menurut lo... dia beneran cuma lari pagi?”

Wain tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih menempel di pintu kamar Lex.
Entah kenapa, ada yang terasa aneh.


Sekolah

Bel istirahat baru saja berbunyi. Koridor sekolah langsung dipenuhi murid-murid yang keluar kelas, sebagian menuju kantin, sebagian lagi cuma jalan-jalan cari angin. Di antara kerumunan itu, terlihat rombongan Zayyan dan teman-temannya berjalan beriringan.

Wain dan Lex ada di barisan paling belakang. Suasana mereka agak berbeda dari yang lain—lebih sepi, lebih dingin.

Tiba-tiba, Wain menarik lengan Lex, menghentikan langkahnya.

“Gue mau ngomong sama lo,” ucap Wain pelan, tapi nada suaranya serius.

Lex menatapnya sebentar. “Ngomongin apa?”

Wain tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, memberi kode dengan kepalanya untuk mengikuti dia. Lex paham isyarat itu. Tanpa banyak tanya, dia mengikuti Wain melewati lorong-lorong sekolah, hingga akhirnya mereka sampai di belakang sekolah, disana ada gudang tua—tempat yang sudah jarang dipakai dan jarang dilewati murid lain. Sepi dan cukup tersembunyi.

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang