Sebelumnya
Zayyan tercekat. Jantungnya langsung berpacu lebih cepat, nafasnya mulai pendek-pendek. Rasa sesak merayap di dadanya. Asmanya kambuh.
.
.
.
.
.
.
Nggak... jangan sekarang ...
Tangannya buru-buru meraba dadanya, mencoba menenangkan diri. Tapi asmanya justru semakin parah. Napasnya tersengal-sengal, pendek, dan semakin sulit diatur.
Panik, dia segera meraih tasnya yang masih tergeletak di sofa. Tangannya gemetar saat mengaduk-aduk isi tas, mencari inhalernya.
Tapi...
Nggak ada.
Perasaan paniknya semakin menjadi. Dia yakin tadi inhalernya ada di dalam tas! Kenapa sekarang nggak ada?
Tangannya mencengkeram dadanya lebih erat. Dadanya terasa semakin sesak. Udara semakin sulit masuk. Pandangannya mulai berputar.
Kakinya melemah, dan-
Bruk!
Tubuhnya jatuh ke lantai. Napasnya tersengal makin parah. Suara detak jantungnya menggema di telinga.
Matanya melirik ke arah luar jendela. Sosok berhoodie hitam itu masih di sana. Berdiri diam. Tapi kali ini, entah kenapa, rasanya semakin dekat.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Wain baru keluar dari kamarnya dengan wajah mengantuk. Dia awalnya berniat hanya mengambil air minum, tapi langkahnya langsung berhenti begitu melihat Zayyan terduduk di lantai, terengah-engah, dengan tangan memegangi dadanya.
"yan?! Lo kenapa?" Wain langsung berlari menghampiri.
Zayyan mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Nafasnya terlalu berat untuk sekadar menjawab.
"Inhaler lo mana?" Wain bertanya cepat.
Zayyan hanya bisa menggeleng pelan.
Mata Wain membulat. "Lo nggak punya cadangan?"
Zayyan menggeleng lagi.
Sumpah, kalau aja kondisi Zayyan nggak separah ini, Wain pasti sudah membentaknya. Dia benar-benar nggak habis pikir kenapa Zayyan bisa seceroboh ini. Tapi sekarang bukan waktunya untuk marah.
"Gue harus panggil yang lain," kata Wain, panik.
Tapi tiba-tiba, tangan Zayyan mencengkeram pergelangan tangannya lemah. Dia menggeleng lagi, matanya memohon.
"Lo gila ya?!" Wain hampir berteriak. "Kondisi lo udah kayak gini masih aja lo pikirin buat nyembunyiin ini?! Zayyan, lo bisa mati kalau lo maksa!"
Tapi Zayyan tetap keras kepala. Bahkan dengan napas yang tersengal, dia masih aja menggeleng.
Wain mengacak rambutnya frustasi. Dia beneran nggak percaya ini. "Oke, gue nggak bakal panggil yang lain. Tapi lo ke rumah sakit. Sekarang."
Zayyan nggak punya pilihan. Kondisinya udah terlalu lemah buat melawan.
Tanpa pikir panjang, Wain mengambil jaketnya yang di dekat pintu masuk dan langsung menggendong Zayyan keluar dari asrama. Sudah tengah malam, kemungkinan penjaga asrama sudah tidur, jadi mereka bisa keluar tanpa ketahuan. Beruntung, pas mereka sampai di jalanan, ada taksi yang lewat. Wain langsung menghentikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Misterio / SuspensoHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
