Dongbin melangkah keluar dari kamar menuju ruang tamu. Di sana, teman-temannya tengah berkumpul, suara obrolan bercampur dengan tawa ringan memenuhi ruangan.
"Wah, lo lama banget, Bin," ujar Lex sambil melirik santai. "Sorry, airnya dingin banget, kaget gue," jawab Dongbin sambil mengusap rambutnya yang masih basah. "Manja lo," Lex menimpali dengan nada menggoda.
Tak lama kemudian, Dongbin berpamitan. Namun sebelum benar-benar pergi, ia terlebih dahulu membantu membereskan sisa makanan yang berserakan di meja. Gerakannya tenang, seolah ingin meninggalkan kesan baik sebelum beranjak.
"Gue balik dulu, ya. Udah malam nih. Kapan-kapan gue mampir lagi, tapi kalian yang traktir, yak," ucap Dongbin sambil tersenyum kecil. "Sip, lo hati-hati di jalan," sahut Lex.
Dongbin hanya mengangguk singkat, lalu melangkah keluar dari asrama. Jalan setapak di lingkungan itu terasa lengang, hanya diterangi lampu jalan yang temaram. Ia berjalan menuju gerbang, namun pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Kata-kata yang tadi ia temukan di laptop terus bergema dalam benaknya"Tempat rahasia untukmu yang disakiti. Tinggal menunggu satu dari mereka jatuh."
Di sisi lain, suasana asrama perlahan mereda. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit, berpadu dengan bunyi televisi yang masih menyala meski volumenya telah diperkecil. Ruangan itu terasa tenang, namun ada kesan samar yang menggantung di udara.
Lex bersandar pada dinding, pandangannya tertuju ke arah pintu yang baru saja dilewati Dongbin. Ia bergumam pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Kok gue ngerasa Dongbin jadi aneh, ya..."
Zayyan yang duduk santai di atas karpet segera menoleh. "Aneh kenapa? Dia kayak biasanya kok."
Lex tersenyum tipis, matanya masih tampak penuh keraguan. "Nggak maksud gue... kayak ada yang lagi dia pikirin. Dari tadi gue liat dia nggak fokus, ngerti nggak sih?"
Hyunsik baru saja keluar dari dapur sambil membawa segelas air, ikut mendengar percakapan itu. "Mungkin capek kali," ujarnya ringan.
Gyumin langsung menyela dengan nada bercanda. "Atau jangan-jangan... dia abis liat sesuatu di toilet tadi. Hantu, misalnya."
Sing tertawa kecil, lalu menimpali dengan nada menggoda. "Yaelah, Min. Zaman gini masih percaya hantu? Lo kali hantunya."
Suasana sempat cair kembali, tawa mereka memenuhi ruangan. Namun Lex tetap diam, jemarinya hanya memainkan gelas di atas meja. Pandangannya kosong, seolah menembus ruang yang tak terlihat.
"Kenapa sih, Bang?" tanya salah satu dari mereka.
Lex mengangkat bahu, suaranya datar. "Nggak... nggak kenapa-napa. Gue cuma ngerasa ada yang aneh aja."
"Dari Dongbin?" Zayyan menebak.
Lex menggeleng pelan. "Bukan. Tapi dari semuanya."
Sekejap ruangan kembali hening. Tak ada yang tahu harus membalas apa. Hanya suara jam dinding yang terdengar jelas tik... tak... tik... tak... ritme sederhana yang justru menambah ketegangan.
Hyunsik akhirnya mencoba merubah topik.
"Udah lah, besok masih sekolah. Mending tidur. Nanti besok pagi gue yang bangunin."
Gyumin menguap, langsung berdiri sambil ngulet. "Gue duluan, ya. Kalo ada suara aneh, jangan panggil gue."
"Tenang," balas Sing sambil nyengir, "yang aneh kan biasanya lu."
Tawa kecil pecah lagi, tapi cuma sebentar.
Satu per satu mereka masuk kamar masing-masing. Lampu ruang tamu dimatikan, menyisakan cahaya tipis dari jendela.
Lex masih di sana sebentar.
Dia melirik ke arah pintu yang tadi dilewatin Dongbin.
Hatinya merasa ada yang ganjil. Kayak firasat aneh yang nggak bisa dijelasin.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Misterio / SuspensoHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
