21

249 23 28
                                        

Pemakaman Beomsoo

Pemakaman Beomsoo berlangsung dengan suasana yang sangat sunyi. Teman-teman Beomsoo berdiri di sekitar makam, menundukkan kepala, menahan air mata yang tak terbendung. Mereka mengenakan pakaian hitam, simbol dari kehilangan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Zayyan berdiri di samping Gyumin, wajahnya tampak pucat. Hatinya terasa sangat berat, seolah-olah ada beban yang tak bisa dia lepaskan. Setiap kenangan tentang Beomsoo, setiap tawa dan canda yang mereka bagi bersama, kini terasa begitu jauh.

Zayyan memandang kosong ke arah makam. Dadanya terasa sesak, seperti ada beban besar yang menghimpitnya. "Beomsoo nggak pantas pergi kayak gini," gumamnya, suaranya bergetar.

Leo menggenggam erat tangan Sing, berusaha menenangkan dirinya. "Dia selalu bikin kita ketawa, tapi sekarang..." Leo tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Dia nggak akan pergi sia-sia," jawab Sing dengan suara penuh tekad, meskipun matanya berkaca-kaca. "Kita bakal cari tahu siapa yang ngelakuin ini."

Di sisi lain, gyumim berdiri sedikit menjauh. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya penuh dengan rasa bersalah. "Kalau aja gue lebih peka... Kalau aja gue bisa ngelindungin dia..." pikirnya, menyesali sesuatu yang tidak bisa dia ubah.

Namun, di tengah suasana duka itu, salah satu dari mereka berdiri dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Dia menunduk seolah sedang berdoa, menyembunyikan ekspresi puas yang mulai muncul di wajahnya.

"Kasian banget si lo, Beomsoo," batinnya. "Harus mati kayak gini. Tapi ini salah lo sendiri, kan? Terlalu penasaran sampai akhirnya ketemu gue."

Setelah prosesi pemakaman selesai, mereka berjalan perlahan meninggalkan pemakaman. Tidak ada satu pun yang berbicara. Hanya suara langkah kaki dan isakan pelan yang terdengar.

Zayyan menghentikan langkahnya, menoleh ke arah makam Beomsoo yang mulai menghilang dari pandangan. "Gue nggak bisa terima ini. Kita harus cari tahu siapa yang ngeracunin dia."

"Mulai dari mana?" tanya Leo. "Kita nggak punya petunjuk."

Sing menatap Zayyan. "Kita harus mulai dari pesan-pesan aneh itu. Simbol, ancaman... semuanya pasti ada hubungannya."

"Dan kita harus hati-hati," tambah Gyumin dengan suara pelan. "Pelaku itu ada di sekitar kita. Dia tahu semua gerakan kita."

Kata-kata itu membuat mereka saling berpandangan. Pikiran itu menakutkan. Bagaimana jika pelaku benar-benar ada di antara mereka?

Setelah beberapa saat terdiam, mereka mulai melangkah pergi dari pemakaman, meskipun perasaan kehilangan masih membekas dalam hati mereka. Langkah mereka terasa berat, seolah-olah setiap langkah membawa beban yang semakin besar. Tidak ada yang tahu pasti apa yang harus dilakukan selanjutnya, tapi satu hal yang jelas—mereka tidak bisa membiarkan kematian Beomsoo sia-sia.

Sesampainya di asrama, suasana masih terasa berat, seperti beban yang tak kunjung hilang. Mereka semua berjalan dengan langkah yang lesu, menuju kamar masing-masing. Tidak ada percakapan, hanya suara langkah kaki yang terdengar di lorong yang sunyi.

Zayyan, yang biasanya selalu ceria, tampak sangat berbeda. Dia berjalan dengan langkah pelan, matanya kosong, seolah-olah terjebak dalam pikirannya sendiri. Begitu sampai di depan kamar Beomsoo, dia berhenti sejenak. Pintu kamar itu tertutup rapat, dan Zayyan hanya berdiri di sana, menatap pintu itu tanpa bisa bergerak.

Hatinya terasa begitu berat. Dia teringat kembali pada tawa Beomsoo, candaan yang selalu membuat suasana ceria, dan kenangan-kenangan indah bersama sahabatnya itu. Namun, sekarang semuanya sudah berubah. Beomsoo sudah tidak ada lagi, dan Zayyan merasa seperti kehilangan bagian dari dirinya.

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang