20

280 27 15
                                        


Setelah menutup telepon dari Gyumin, Zayyan berdiri terpaku di tengah kamar. Wajahnya pucat, pikirannya penuh dengan kata-kata terakhir Gyumin tentang Beomsoo.

“Zayyan, kenapa? Lo keliatan kayak liat hantu,” tanya Hyunsik yang sedang duduk di meja belajarnya, memperhatikan Zayyan dengan tatapan bingung.

Zayyan menoleh perlahan, matanya berkaca-kaca. "Hyunsik... Beomsoo... dia udah nggak ada."

Hening sejenak. Hyunsik terdiam, mencoba mencerna kata-kata Zayyan. "Apa maksud lo? Beomsoo... meninggal?"

Zayyan mengangguk pelan. "Iya. Gyumin bilang... dokter nemuin racun di tubuhnya. Kita harus ke rumah sakit sekarang."

Mendengar itu, Hyunsik langsung berdiri dari kursinya. “Tunggu, gue panggil yang lain.”

Hyunsik keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Leo dan Sing dengan tergesa-gesa. Leo yang baru saja membuka pintu langsung terkejut melihat wajah serius Hyunsik.

“Kenapa, Hyunsik?” tanya Leo.

“Kumpulin semuanya di ruang tengah. Gue ada kabar penting,” jawab Hyunsik singkat.

Beberapa menit kemudian, semua teman sekamar berkumpul di ruang tengah. Zayyan berdiri di tengah ruangan, mencoba menenangkan dirinya sebelum bicara.

“Gue baru aja dapet kabar dari Gyumin. Beomsoo... dia meninggal.”

Semua langsung terdiam. Wajah mereka menunjukkan berbagai ekspresi: kaget, bingung, sedih.

“Apa? Meninggal?!” Leo hampir berteriak, matanya melebar.

“Iya,” jawab Zayyan, suaranya bergetar. “Dokter bilang dia diracun. Gue nggak tahu gimana caranya, tapi... dia udah nggak ada.”

Hyunsik mengepalkan tangannya. “Pelaku itu... dia bener-bener gila.”

“Kita nggak bisa diem aja,” ujar wain, suaranya tegas. “Kita harus ke rumah sakit sekarang. Kita harus ngasih penghormatan terakhir buat Beomsoo.”

Zayyan mengangguk. “Gyumin dan Sing udah di sana. Mereka nunggu kita.”

Tanpa banyak bicara lagi, mereka semua langsung bersiap-siap. Beberapa menit kemudian, mereka sudah keluar dari asrama, berjalan cepat menuju halte bus terdekat untuk pergi ke rumah sakit.

Ketika mereka tiba di rumah sakit, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Mereka langsung menuju kamar Beomsoo, tapi di sana hanya ada Gyumin dan Sing yang duduk di kursi, wajah mereka terlihat lelah dan penuh kesedihan.

Zayyan berjalan mendekati mereka. “Gyumin, Sing... maaf kita baru sampai.”

Gyumin hanya mengangguk, matanya merah karena menangis. “Lo semua udah di sini?”

“Iya,” jawab Hyunsik. “Gimana keadaannya?”

Gyumin menunduk. “Beomsoo udah dibawa ke ruang jenazah. Dokter bilang mereka bakal siapin prosesi pemakaman secepatnya.”

Mendengar itu, suasana kembali hening. Tidak ada yang tahu harus berkata apa. Rasa kehilangan begitu terasa di antara mereka.

Zayyan berdiri di depan kamar Beomsoo yang kini kosong. Tangannya menggenggam erat jaketnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa berat. Dia tidak pernah membayangkan harus menghadapi kehilangan sebesar ini di negeri asing.

“Zayyan,” panggil Sing, mendekatinya pelan. “Kita semua di sini buat Beomsoo. Dia pasti nggak mau kita terus-terusan sedih.”

Zayyan mengangguk lemah, tapi hatinya tetap terasa kosong. “Tapi kenapa harus dia, Sing? Beomsoo nggak pernah nyakitin siapa-siapa. Dia nggak pantas pergi kayak gini.”

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang