Di balik senyuman dan tawa kita, ada rahasia yang tak terucapkan, mengintai di sudut gelap yang tak ingin kita lihat."
Zayyan
Setelah bel berbunyi tanda masuk kembali, mereka semua kembali ke kelas masing-masing. Namun, pikiran mereka masih penuh dengan pesan misterius yang baru saja ditemukan Zayyan. Saat itu juga, Zayyan tersadar bahwa dirinya menyimpan rahasia besar tentang asmanya, sesuatu yang belum dia bagikan kepada teman-temannya.
Saat jam pelajaran selesai, waktu makan siang pun tiba. Mereka kembali berkumpul di taman kecil di belakang sekolah, tempat biasa mereka nongkrong.
Begitu berkumpul, Davin langsung memecah suasana, mencoba mencairkan ketegangan yang masih terasa. "wehh , siapa sih di sini yang ngasih ancaman tapi nggak ada duit buat beli kertas yang bagus? Itu amplopnya udah lusuh banget, mana tulisannya kayak yang nulis pakai pulpen yang tintanya hampir habis," ujarnya sambil tertawa kecil.
Leo menimpali, ikut tertawa, "Iya, serius! Gue malah ngebayangin pelakunya duduk sambil nyari-nyari pena yang masih bisa dipake! Kalau begini sih kayaknya ancamannya nggak serius-serius amat, ya?"
Mereka tertawa sebentar, meskipun rasa was-was belum hilang sepenuhnya.
Sing, yang biasanya ceria, tiba-tiba memandang serius ke arah Zayyan dan yang lain. "Gue sih curiga pelakunya dari masa depan. Soalnya... kalau dia bener-bener di sekitar kita, pasti udah ketahuan. Hati-hati, guys, bisa aja pelakunya robot masa depan!" katanya sambil berpura-pura serius, tetapi ujung-ujungnya malah tertawa sendiri.
Zayyan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, "Iya, Sing, dan mungkin robotnya takut banget buat ketahuan sampe-sampe dia kirim pesan pake amplop kayak gitu." Semua tertawa lagi, sedikit melupakan ketegangan yang sebelumnya ada.
Namun, di tengah-tengah candaan mereka, Hyunsik tiba-tiba menyeletuk dengan suara agak serius, "Eh, eh, udah, udah. Gue nggak tahu kalian bercanda atau beneran, tapi jangan lupa kita beneran ada yang ngincar. Tetep waspada."
Wain menatapnya sambil menahan tawa. "Hyunsik,
lo jangan terlalu serius, ntar malah lo yang dikira pelaku!"
Suasana pun makin pecah dengan tawa mereka. Setidaknya, humor kecil itu cukup untuk mengurangi rasa tegang yang mereka rasakan. Meskipun ancaman tetap ada, mereka memilih untuk menjalani hari dengan sedikit lebih ringan.
Di tengah tawa mereka, tiba-tiba Zayyan berdiri dengan ekspresi serius, membuat yang lain langsung hening. "By the way, soal amplop tadi... gue masih penasaran siapa yang taruh itu di loker gue. Gimana kalau mulai besok, kita gilir jaga loker?" katanya setengah serius.
Leo tiba-tiba mengangkat tangan, "Gue skip, bro. Gue nggak mau dicurigain jadi pelaku gara-gara jaga loker lo. Biar kita semua aman, lebih baik gue duduk aja di sini sambil ngegodain cewek-cewek yang lewat!"
Sing menimpali dengan cepat, "Bagus, Leo. Lo jaga taman ini aja, siapa tahu ada petunjuk dari cewek-cewek yang lewat." Mereka kembali tertawa, dan suasana pun menjadi lebih santai.
Namun, meski mereka bercanda, ada perasaan yang terselip di antara mereka. Masing-masing dari mereka menyadari bahwa mereka harus tetap waspada, dan di balik tawa, mereka tetap saling memperhatikan. Satu demi satu, rasa curiga masih tumbuh, tetapi dalam hati mereka bertekad untuk menghadapi apa pun yang terjadi bersama-sama.
Setelah tertawa-tawa di taman belakang sekolah, mereka beranjak menuju asrama dengan suasana yang lebih santai. Leo dan Sing memimpin di depan sambil terus bercanda, sementara Zayyan tampak sedikit lebih diam. Dia masih memikirkan pesan misterius yang ditemukan tadi pagi. Sementara itu, Hyunsik berjalan di belakang mereka semua, memperhatikan dengan sikap serius seperti biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mistero / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
