33

251 29 23
                                        

Besok paginya...

Wain berdiri di depan gerbang sekolah yang masih sepi. Jam di tangannya baru menunjukan pukul 05.47. Udara pagi masih dingin, matahari bahkan belum naik sepenuhnya.

Dia merapatkan jaketnya, melirik ke kanan dan kiri, sampai akhirnya dari kejauhan, dia melihat sosok Lex datang q—menggunakan hoodie abu-abu dan celana training, sama seperti kemarin.

“Lo dateng juga,” kata Lex pelan, sedikit tersenyum.

“Gue penasaran sih,” jawab Wain. “Tapi jujur, gue juga agak takut.”

Lex mengangguk, “Wajar kok. Yang mau gue tunjukin ke lo juga... bukan hal biasa.”

Bukannya masuk ke sekolah, Lex mengajak Wain naik bus kota. Selama perjalanan, mereka hampir tidak bicara. Wain sesekali melirik ke arah Lex yang duduk diam, tatapannya menempel di jendela.

Setelah hampir 20 menit perjalanan, mereka tiba di pusat kota. Meski hari Minggu dan masih pagi banget, daerah itu sudah mulai hidup. Tapi café yang mereka tuju masih tampak tenang, belum buka. Bangunannya dua lantai, dengan desain estetik bergaya minimalis-modern yang beda dari café kebanyakan—dinding bata putih, jendela kaca besar, dan tanaman gantung di berbagai sudut.

Papan nama bergaya klasik tergantung di atas pintu kaca:
"Bean’s Nest Café."

Wain berhenti di depan pintu masuk, matanya menyapu bangunan yang sudah tidak asing lagi. Café ini selalu rame. Bahkan jadi tempat nongkrong favorit anak-anak sekolah mereka.

“Loh… kok malah ke café?” tanya Wain, bingung.

Lex melirik sambil senyum misterius. “Mau tau, kan? Ikutin aja.”

Dia mengeluarkan kunci kecil dari kantong hoodie-nya, lalu membuka pintu samping yang terhubung langsung ke bagian dalam café. Mereka masuk dengan hati-hati. Suasana masih sepi, lampu utama belum dinyalakan, hanya sinar matahari yang masuk dari celah jendela kaca.

Desain dalamnya juga estetik—meja kayu, lampu gantung industrial, rak buku mini berisi novel dan majalah, semua tertata rapi. Tapi Lex tidak berhenti di area café. Dia langsung jalan menuju sebuah pintu di sudut ruangan, bertuliskan "Manager Only."

Mereka masuk ke ruangan itu.

Ruangan manajer itu terlihat simpel dan estetik. Ada meja kerja dari kayu, laptop tertutup, dan di satu sisi ada rak buku tinggi yang penuh dengan berbagai buku dan dokumen.

Wain baru mau duduk saat Lex berdiri di depan rak buku. “Perhatiin, ya,” katanya pelan.

Tangannya menyusuri deretan buku dan menarik satu, lalu satu lagi, lalu satu lagi—seperti mengikuti pola tertentu. Bunyi klik halus terdengar. Beberapa detik kemudian, rak buku itu bergerak—geser ke samping seperti pintu rahasia.

Wain melongo. “Gila… ini serius?”

“Serius banget,” jawab Lex pelan.

Di balik rak itu ada lorong sempit dengan lampu kecil di langit-langitnya. Mereka masuk, dan ujung lorong itu membuka ke dalam ruangan yang membuat Wain semakin melongo.

Ruangan rahasianya cukup luas. Dindingnya full panel kayu gelap, dan di dalamnya ada beberapa komputer canggih dengan banyak layar, perangkat teknologi yang bahkan Wain nggak ngerti fungsinya, dan satu meja besar yang penuh dengan kertas, foto-foto teman-teman mereka, coretan-coretan investigasi, catatan waktu, dan diagram hubungan.

Di depan salah satu layar komputer, duduk seseorang.

“Lo dateng juga,” kata Dongbin tanpa menoleh, tangannya masih aktif mengetik sesuatu.

VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang