Begitu masuk ke dalam asrama, lex dan wain langsung melepaskan sepatu pelan-pelan, takut membangunkan siapa pun. Suasana asrama sudah gelap, hanya ada cahaya kecil di lampu lorong.
"Sepi banget, " bisik lex.
"Mungkin Mereka udah tidur semua," jawab wain sambil nyelonong pelan ke arah kamarnya di ikuti lex.
Mereka masuk ke kamar dengan langkah setipis bayangan, dan langsung rebahan di kasur tanpa ganti baju. Capeknya bukan main, tapi otak mereka masih muter soal rencana besok.
Keesokan paginya, di kantin sekolah
Jam baru menunjukan pukul 09.20, tapi kantin sudah mulai rame. Suara sendok, dan obrolan bercampur jadi satu. Beberapa anak terlihat masih mengantuk sambil menyeruput susu kotaknya, sebagian lagi sibuk berebut tempat duduk di dekat kipas angin.
Lex dan wain duduk bersama di satu meja pojok sambil memakan roti isi telor yang baru mereka beli. Mereka sudah menyiapkan wajah se-natural mungkin. Capek iya, tapi harus kelihtan normal.
Beberapa saat kemudian, zayyan, hyunsik, Leo, sing, dan yang lainnya datang bersama, mereka langsung menghampiri meja mereka. Wajah mereka terlihat penuh tanda tanya.
"Lo berdua kemarin kemana aja?" Tanya zayyan duluan. Nada suaranya sedikit marah, tapi jelas khawatir.
"Iya, gue chat berkali-kali gak dibales. tiba-tiba ilang," sambung Leo sambil duduk di kursi.
Sing duduk di sebelah Leo, dia menyikut bahunya pelan. "Gue bahkan sempet mikir kalian kenapa-napa..."
Lex menarik nafas pelan, lalu mulai menjelaskan. "Gue dimintain tolong temen gue yang punya cafe. Salah satu karyawanya sakit dadakan, terus dia panik minta bantuan. Yaudah gue bantuin."
"Dan lo juga?" Gyumin melihat ke arah wain.
Wain mengangguk sambil menyuapkan roti ke mulutnya. "Iya. Tadinya cuma lex, tapi karena gue lagi Gabut juga, yaudah gue bantuin. Sumpah dadakan banget."
Hyunsik menyenderkan punggungnya ke kursi, matanya masih melihat mereka berdua. "Dan gak sempet kabarin kita?"
"HP gue mati total dari siang, gak kebawa powerbank juga," kata lex sambil mengangkat bahu.
Zayyan mengangguk pelan. "Ya... untung kalian nggak kenapa-kenapa. "
"Kerja sampe malem?" Tanya sing.
Wain nyengir kecil. "Sampai tutup. Trus bantu bersihin juga. Nggak liat nih sekarang muka kita kayak zombie?"
Leo menyeruput susu kotaknya, matanya masih nyempil penuh rasa ingin tahu. "Cafe-nya di mana?"
"Nggak jauh dari sekolah," jawab lex santai. "Nanti deh kalok sempet, gue ajak kalian ke sana. Kopinya enak."
Gyumin menyuapkan donat kecilnya, lalu nyeletuk, "Berarti kalian kerja sambil main main- atau sambil pacaran kemarin?"
Wain langsung melempar tatapan malas. "Apaan sih... gue pulang- pulang beneran pegel bukan main, bukan bahagia."
Semuanya tertawa.
Tapi meskipun suasana mencair, Hyunsik masih terlihat diam, matanya gelap dan tatapanya ke arah lex sedikit lama.
Sementara itu, zayyan juga kelihatan masih berfikir. Tapi dia tidak bilang apa-apa.
Setelah beberapa saat, mereka mulai mengobrol soal pelajaran hari ini, seolah tidak ada yang aneh. Tapi jelas, dalam diam, masing-masing mulai menyimpan rasa curiga.
Setelah makan siang di kantin, anak-anak mulai bubar. Ada yang balik ke kelas, ada yang ke lapangan, dan ada juga yang milih nongkrong di koridor.
Lex dan wain juga ikutan mencar. Lex berjalan ke arah perpustakaan pura-pura nyari buku, sementara wain duduk santai di bangku lorong lantai dua, pura-pura ngeliatin halaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
