Ruangan kembali sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar samar. Setiap orang larut dalam pikirannya masing-masing, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Wain akhirnya memecah keheningan. "Kalau kita udah masuk perangkapnya... terus sekarang kita harus ngapain?"
Leo menyandarkan kepalanya ke tembok. "Jujur, gue nggak tahu. Ini mulai makin gila."
Gyumin melirik gantungan kunci yang masih ada di meja. "Kita harus cari tahu siapa yang naro ini di sini. Kalau bukan Lex, berarti ada orang lain yang bisa masuk ke kamar kita."
Zayyan mengangguk setuju. "Itu juga yang gue pikirin. Kita harus inget-inget, siapa aja yang bisa punya akses ke sini."
Hyunsik yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, nadanya lebih serius dari sebelumnya. "Berarti kita harus lebih hati-hati."
"Dan jangan sembarangan nuduh lagi," tambah Zayyan sambil menatap mereka satu per satu.
Gyumin menghela napas panjang, merasa sedikit bersalah atas bagaimana dia bersikap ke Lex tadi. "Oke... jadi, sekarang kita tinggal nunggu Lex balik?"
Zayyan mengangguk pelan. "Ya, kita kasih dia waktu dulu."
Wain menatap jam dinding. "Udah malem, kita tidur aja dulu. Kepala gue udah kebanyakan mikir."
Leo menggumam setuju, lalu beranjak ke tempat tidurnya. Satu per satu mereka mulai bersiap untuk tidur, tapi tak ada yang benar-benar bisa merasa tenang.
Lorong asrama terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara langkah kaki Lex yang terdengar samar, bergema di antara dinding yang dingin. Lampu-lampu di langit-langit menyala redup, menyisakan bayangan panjang yang bergerak seiring langkahnya.
Dia berjalan perlahan, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Udara malam terasa lebih dingin, menusuk hingga ke kulit. Nafasnya keluar dalam hembusan pendek, matanya terus mengamati sekitar, memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Sesekali, dia menoleh ke belakang, hanya untuk melihat lorong yang tetap kosong. Tapi entah kenapa, perasaan gelisah masih menempel di dadanya. Seperti ada sesuatu yang mengawasinya dari sudut-sudut gelap asrama ini.
Saat melewati jendela besar di ujung lorong, dia berhenti sejenak. Dari situ, dia bisa melihat pekarangan asrama yang remang-remang diterangi lampu jalan. Hening. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain bayangan pohon yang bergerak pelan karena angin.
Lex mengepalkan tangannya, berusaha menenangkan pikirannya. Dia tidak boleh kehilangan fokus. Ada sesuatu yang harus dia temukan malam ini.
Tanpa banyak berpikir lagi, dia melanjutkan langkahnya, berjalan lebih cepat, seakan takut kalau terlalu lama berhenti, sesuatu akan muncul dari balik kegelapan dan menariknya masuk ke dalamnya.
Lex akhirnya sampai di depan pintu kamarnya. Dia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Tangannya terangkat, siap membuka pintu, tapi ragu-ragu sesaat.
Dari celah bawah pintu, dia bisa melihat sedikit cahaya. Berarti ada yang masih bangun.
Perlahan, dia memutar gagang pintu dan mendorongnya. Pintu terbuka tanpa suara, memperlihatkan pemandangan kamar yang remang-remang. Sing sudah tertidur di tempat tidurnya, selimutnya naik hingga menutupi sebagian wajah. Tapi di kasur sebelah, Wain masih terjaga, matanya terpaku pada layar ponselnya yang memancarkan cahaya biru.
Wain melirik ke arah pintu saat mendengar suara langkah Lex masuk. "Lo baru balik?" tanyanya, suaranya sedikit serak karena mengantuk.
Lex menutup pintu di belakangnya, melepas jaketnya, lalu mengangguk pelan. "Iya," jawabnya singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
