Zayyan terhuyung mundur, nafasnya memburu. Leo menahan lengan zayyan agar tidak jatuh, tapi dia sendiri gemetar hebat. "Bang... ini nggak mungkin... dia masih hidup kan?".
Zayyan tidak menjawab. Dadanya terasa sesak, seperti ada beban berat yang menekan paru parunya. Jangan sekarang pikirnya panik. Dia merogoh saku celananya, mencari inhaler yang selalu ia bawa, tapi tanganya gemetar terlalu hebat untuk menemukanya.
Zayyan meremas dadanya dengan panik, rasa sesak semakin parah. Dia tidak bisa membiarkan leo melihatnya dalam keadaan seperti ini. "Gue... gue ke kamar mandi bentar," katanya buru buru, suaranya terdengar putus putus.
Leo memandangnya penuh kebingungan dan khawatir. "Bang, lo nggak apa-apa?"
Zayyan menahan nafas sejenak, mencoba menenagkan diri. "Gue nggak apa-apa", katanya, memaksakan senyum kecil. Tapi bibirnya yang pucat dan keringat dingin di dahinya membuat leo semakin
Cemas.
"Bang lo keliatan nggak baik-baik aja!" Leo hampir menarik tangan zayyan, tapi zayyan berusaha menghindar. "Gw... gw cuma butuh air", katanya cepat, lalu melangkah tergesa-gesa ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, zayyan bersandar di wastafel, tubuhnya gemetar hebat. Dia mencengkram pinggiran wastafel dengan kedua tangan, berusaha keras untuk tidak jatuh. Nafasnya tersenggal, dan suara wheezing dari dadanya semakin keras.
"Jangan pingsan... jangan sekarang..." gumamnya dengan suara serak. Tanganya gemetar saat dia mengambil inhaler dari sakunya, dengan cepat, ia menggunakanya, tapi rasa sesak itu tidak langsung hilang. Pandanganya mulai kabur, dan tubunya semakin lemas.
Di luar, leo mondar-mandir, di depan pintu kamar mandi. Matanya terus menatap pintu dengan gelisah.
"Bang, lo nggak apa-apa di dalem?" Tanyanya, suaranya mulai meninggi karna panik.
Tidak ada jawaban
"Bang, gue masuk ya kalok lo nggak jawab!" Teriak leo lagi, suaranya semakin bergetar. Dia menekan gagang pintu tapi terkunci.
Di dalam kamar mandi, zayyan mencengkram wastafel lebih erat, berusaha menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Setelah beberapa saat, rasa sesaknya mulai mereda, meskipun tubuhya masih lemas. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba nengembalikan kesadaranya.
Dengan langkah goyah, zayyan akhirnya membuka pintu. "Bang! Lo ngapain lama banget? Gw pikir lo kenapa-napa di dalem!".
Zayyan memaksakan senyum kecil, meskipun matanya masih menunjukan kelelahan. "Maaf, gue cuma... butuh waktu".
Leo menatapnya tajam, matanya berkata-kata. "Bang, Lo nggak usah bohong! Gw liat lo kayak orang mau pingsan tadi!"
Zayyan menggeleng pelan, menepuk bahu leo. "Udah, gw baik-baik aja, sekarang kira fokus ke beomsoo, oke?"
Leo mendesah, masih terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Oke, bang. Tapi kalok lo kenapa- napa, bilang ke gue, ya".
"Beomsoo..." Zayyan memanggil pelan, suaranya terdengar serak. "Lo denger gue, kan? Bangun, dong. Jangan kayak gini."
Tapi Beomsoo tetap diam. Matanya kosong, dan tulisan merah di dadanya seolah mengejek mereka. Leo berdiri di belakang Zayyan, tubuhnya gemetar. "Bang... ini nggak bener. Kita harus lapor ke yang lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
VEGEANCE ( xodiac )
Mystery / ThrillerHanya sebuah kisah tentang sekumpulan remaja yang di teror X beyond the world Xodiac 입니다
